Donor Darah: Belajar Bersumbangsih Tulus Tanpa Pamrih Terhadap Sesama

Setetes Darah Anda, Kehidupan Bagi Orang Lain

Kehidupan manusia adalah suatu hal yang seyogyanya dipandang sebagai sesuatu yang mulia. Dikatakan demikian, sesungguhnya, di dalam kehidupannya sebagai manusia, manusia bisa mempraktekkan suatu aspek kehidupan yang sangat penting, yakni “cinta kasih”, suatu substansi yang membebaskan kita dari ego, suatu cinta yang tidak terkondisikan, yang hanya bisa dialami oleh seseorang yang telah terbebas dari pengaruh-pengaruh “sang diri” yang saya sebut superego.

Dikatakan bahwa pikiran adalah awal dari kebaikan dan kejahatan. Oleh karenanya, dengan memiliki perasaan yang penuh cinta kasih, kita telah berusaha mengawali perilaku kita dengan hal yang baik. Suatu pikiran yang penuh dengan cinta kasih, memungkinkan apa saja yang ada di sekitar kita merasa nyaman dan aman, ya, bagaikan seorang ibu yang memberikan dirinya sebagai perlindungan bagi anaknya, sebagaimana pula seyogyanya cinta kasih itu kita pancarkan ke segala penjuru tanpa terkecuali.

Pikiran cinta kasih adalah suatu manifestasi keharmonisan kosmis dalam totalitasnya. Pikiran manusia itu sendiri bagaikan “kera liar” yang sulit dikendalikan, yang memiliki kekuatan untuk menimbulkan kerusakan maupun kebaikan. Dikatakan memiliki kekuatan kebaikan, karena dari pikiran itu sendiri tersimpan kekuatan spiritualitas semangat pengembangan cinta kasih universal yang tidak terkondisikan.

Merenungkan topik “semangat cinta kasih”, saya ingin menceritakan pengalaman pribadi ketika pertama kalinya saya memutuskan untuk “berbagi” darah ke Palang Merah Indonesia (PMI), yang kejadiannya pun memang tidak terpikirkan dan tanpa perencanaan awal, jadi bisa dikatakan sebagai sesuatu yang bersifat spontanitas.

Tepat tahun 2009, adik saya mengajak saya ke sebuah rumah ibadah di Sunter untuk acara puja bakti. Ia mengajak saya, karena tempat tersebut bukanlah tempat rutin bagi kami untuk melakukan puja bakti ritual kerohanian. Namun, bagi kami, melakukan puja bakti di manapun bukanlah suatu kendala, yang terutama adalah bagaimana tingkat pemahaman kita akan nilai-nilai spiritualitas kerohanian dalam prakteknya di kehidupan sehari-hari.

Hari itu, setelah selesai menjalani ritual kerohanian, saya dan adik memutuskan untuk “mencoba” melakukan donor darah (pada waktu itu, secara kebetulan, bertepatan dengan kehadiran kami, di tempat tersebut diselenggarakan acara donor darah bersama). Karena belum pernah melakukan donor darah sebelumnya, pun didorong rasa ingin tahu yang mendalam, maka kami putuskan untuk melakukan donor. Setelah diperiksa, saya diputuskan layak dan boleh donor. Namun, sungguh sayang, adik saya tidak dapat menjalankan niat tulusnya pada saat itu karena setelah diperiksa, kadar hemoglobin-nya (sel darah merah) tidak cukup.

Mungkin karena baru pertama kalinya saya melakukan donor, dan dikarenakan “atas permintaan” saya sendiri, agar diambil darah 2 kantong +/-400-450cc, efek yang saya rasakan selama sepekan adalah “penderitaan”. Bila malam tiba, jantung saya serasa ditekan oleh beban seberat bobot orang dewasa. Menurut ayah, darah saya diambil terlalu banyak, sehingga jantung kekurangan cairan darah untuk dipompa, hal itulah yang menimbulkan rasa sakit di dada (jantung) saya.

Semenjak pengalaman pertama tersebut, saya sempat vakum untuk beberapa waktu. Hingga akhirnya, tepat di tahun akhir tahun 2011, saya putuskan untuk melakukan donor kedua kalinya. Kebetulan sekali, pihak manajemen perusahaan memutuskan agar saya ditempatkan di Thamrin, Jakarta (sebelumnya, di Pondok Indah). Semenjak penempatan di kantor pusat, saya jadi mudah menunaikan niat donor darah, karena event-nya dilakukan di gedung yang sama.

Harusnya, ketika itu saya sudah kapok akibat “insiden” awal yang kurang mengenakan. Namun, ada hal yang membuat saya merasa bahwa keberadaan saya di dunia ini, akan lebih berarti bila saya bisa “belajar” untuk memberikan sesuatu yang sangat berharga di diri saya ini, yakni kehidupan itu sendiri ke orang lain yang membutuhkannya. Dan “sesuatu” itu tidak lain adalah “darah”.

Berikut ini, tulisan menarik yang saya kutip dari Dhammacitta.org

Mengapa Donor Darah Perlu?

Pertimbangkan fakta-fakta berikut ini :

  • [1] Di negara AS diperlukan 32.000 unit darah setiap harinya. Itu sama jumlahnya dengan 3 galon darah setiap menitnya.
  • [2] Rata-rata penerima transfusi sel darah membutuhkan 3-4 unit darah – dimana ini diperoleh dari empat orang pendonor.
  • [3] Setiap satu unit darah dari donor dapat menolong kehidupan tiga orang berbeda.
  • [4] Seseorang yang menderita luka berat seperti dalam kecelakaan mobil bisa jadi memerlukan 50 unit darah bahkan lebih.
  • [5] Seorang yang mengalami luka bakar memerlukan 20 unit darah atau lebih.

Sayangnya, mayoritas orang yang memenuhi syarat untuk mendonorkan darahnya, tidak melakukannya. Data di AS contohnya, Palang Merah AS melaporkan bahwa dari 60% orang AS yang memenuhi syarat untuk mendonor darahnya, hanya 5% yang melakukannya secara berkala. Sedangkan di Indonesia angkanya belum diketahui.

Kurangnya kepedulian adalah satu kunci dari rendahnya peran serta donor darah ini, meskipun untuk banyak individu, mendonor darah menjadi satu daftar ‘niat baik’ mereka.

Apakah Anda memenuhi syarat untuk menjadi seorang donor darah? Kriteria dasarnya adalah seperti yang dibawah ini :

  • [1] Anda paling tidak berusia 17 tahun.
  • [2] Tidak ada batas atas usia.
  • [3] Punya berat badan minimal 45 kg.
  • [4] Anda harus menunggu delapan minggu antara periode donor. (nb: hasil konfirmasi saya dengan pihak PMI, sebaiknya interval antara +/- 2,5 bulan atau 75 hari)
  • [5] Berada dalam kondisi kesehatan yang baik, artinya Anda merasa sehat dan dapat melakukan aktifitas biasa.
  • [6] Kriteria tambahan lainnya dilihat pada saat pendonoran, namun jika Anda menemui kualifikasi di atas, maka Anda kelihatan mampu untuk menjadi donor darah.

Setiap tahun banyak orang menyempatkan diri untuk memberikan darahnya, yang merupakan berkah kehidupan. Ini adalah langkah bagaimana Anda bisa memulai menjadi donor darah .

Singkat kata, setelah donor yang kedua kalinya itu, dalam kadar yang tidak berlebihan, hanya +/- 300 s.d. 350cc (atas permintaan saya ke dokter pemeriksa), hal yang saya rasakan adalah kebahagiaan, karena selain bisa bersumbangsih dengan tulus dan tanpa pamrih, saya merasakan pikiran menjadi lebih damai dan tenang. Bahwasanya dalam kehidupan yang begitu singkat ini, saya masih bisa belajar untuk mempraktekkan cinta kasih universal, dan merasakan suatu “kebahagiaan” yang sulit diungkapkan dengan kata-kata, yang sesungguhnya, “kebahagiaan” yang sudah ada dan bersemayam dalam diri setiap manusia, hanya saja karena hiruk-pikuk kesibukan kita, menjadikannya sulit untuk dikenali oleh diri kita sendiri. “Kebahagiaan” yang dimaksud adalah kebagaiaan dari berbagi dengan orang-orang yang membutuhkan uluran tangan kita.

Kini, meski kegiatan ini baru saya jalani beberapa kali dan masih bisa dihitung dengan jari-jemari tangan, saya merasa senang karena saya semakin memahami “arti kehidupan” yang fana ini, pun sambil belajar bersumbangsih tulus tanpa pamrih terhadap sesama. Semoga di kehidupan ini, saya bisa belajar menjadi sosok yang lebih bermanfaat di masa ini dan di masa mendatang.




    Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: