Menjadi Sumber Inspirasi Bagi Orang Lain

Menjadi Sumber Inspirasi Bagi Orang Lain

Hari ini, 3 Des 2011, waktu menunjukkan pukul 19:00, aku harus siap-siap pergi menemani papa untuk menghadiri event pernikahan putri tunggal dari rekan bisnis papa. Ini adalah event yang cukup penting, selain ia adalah teman baik papa, ia juga yang kerap memberikan order bisnis ke papa.

Kami masuk berdua ke sebuah hal yang besar sekali, diantara keramaian para hadirin undangan, penuh kemewahan. Maklum saja, bila tanpa mengurangi rasa hormatku pada mereka, kukatakan saja, hampir sebagian besar hadirin dari kalangan kelas “bangsawan”. Well, tentu saja, hanya kami berdua yang berasal dari “kaum jelata”, hahaha.

Ok, sedikit cerita tentang rekan bisnis papa, sebut saja Paman A. Paman A memiliki bisnis yang beragam, salah satu yang kuketahui adalah bisnis sarang burung walet. Diceritakan papa, omzet bulanan dari beragam bisnis yang dimiliki Paman A, mencapai puluhan milyar. Wajar saja, Paman A sanggup (bila tidak mau dikatakan sangat sering sekali) mengadakan pesta perjamuan di restoran terkenal dengan tamu undangannya adalah “geng karaoke”, salah satu diantaranya adalah papaku.

Yang membuatku terkesan, bukan karena kekayaan yang dimiliki Paman A yang mencapai ratusan milyar. Tentu saja, meski Paman A memiliki kekayaan trilyunan pun, itu tidak akan pernah bisa membuatku terkesan bila ia tidak memiliki hati yang baik dan dermawan. Ya, Paman A adalah seorang berhati emas, ia kerap kali “menitipkan” sejumlah uang (ratusan juta rupiah) ke panti asuhan, panti jompo dan yayasan-yayasan lainnya. Perbuatan baik ini tidak hanya dilakukan dilakukan satu atau dua kali, melainkan sangat sering. Yang membuatku lebih terharu, hal tersebut ia lakukan tanpa dorongan dari pihak luar, ini murni dari inisiatif dirinya sendiri.

Pernah suatu waktu, aku menemani papa untuk acara jamuan sekaligus karaoke bersama, dalam hall yang dipenuhi seratus undangan, termasuk aku dan papa, Paman A menjamu semua hadirin dengan sajian menu terbaik di restoran yang kokinya langsung didatangkan dari RRC. Yang perlu semua hadirin lakukan adalah membawa diri mereka, tanpa perlu “menitipkan angpao” ke Paman A.

Kembali ke acara resepsi pernikahan putri tunggal Paman A. Aku dan papa hadir terlambat, tapi kebetulan sekali, semua hadirin undangan baru saja dipersilahkan untuk menikmati hidangan. Kami duduk di meja yang cukup pinggir, dan menikmati menu masakan khas oriental yang khusus dipilih Paman A, yakni: dimsum kukus dan goreng, bebek kuah jamur emas, udang tempura, gurame asam manis, udang gulung saus oriental, sup kepiting asparagus, sup sarang burung walet (ini menu, istimewa mahalnya), sup hisit oriental (ini juga mahalnya seampun-ampun), sapo tahu seafood, udang bola mayonnaise, bebek panggang, fuyung hai khas peking, serta tumis jamus cumi. Luar biasa banyak, dan luar biasa mahal. Masalahnya, tamu undangannya bukan cuma dalam hitungan puluhan, melainkan ratusan.

Well, karena Paman A suka sekali mengadakan event karaoke, satu-persatu rekan-rekan “geng karaoke”-nya dipersilahkan menghibur para hadirin. Wah, saking seriusnya berkonsentrasi serta mengatur strategi agak perut tidak terlalu kenyang, kami harus memilah-milah menu mana yang akan kami cicipi. Kami tidak mencicipi semua menu yang disajikan, maklum, terlalu banyak.

Selang satu setengah jam, terdengar sayup-sayup suara dari MC… habislah aku… dipanggil pula untuk maju menyanyi… weg… langsung kuberbicara dalam hati “disini banyak sekali penyanyi berbakat, kenapa harus aku yang menyanyi di antrian selanjutnya….???”. Maklum, aku belum ada persiapan apa-apa. Well, tidak salah lagi, ini pasti di-tag oleh papa. Sudahlah… pikiran blank smua…

Well, demi menghibur acara, aku pilih lagu Lian Xi – oleh Andy Lau… aku suka ritme-nya, terlebih… aku selalu dapat feel dari lagu ini. Eng-ing-eng.. aku tampil 5 menitan… harusnya sih smua hadirin pingsan mendengar suaraku, tapi entah kenapa mereka bengong sesaat, kemudian tepuk tangan… well, kupikir “syukurlah mereka tidak pingsan mendengar suara hancurku ini… hehehe…

Tidak terasa kami menghabiskan waktu sekitar 3 jam di hall mewah itu, dan hal yang paling aku tidak sukai adalah “celana ini rasanya sempit sekaleeeee…”. Aku yakin, ketika pulang, dan kutimbang tubuh ini… “naik 2 kg”. Well, akhirnya kami pamit ke Paman A, menyalami kedua mempelai, mengucapkan “selamat menempuh hidup baru”… and the party is over. Kaum rakyat jelata seperti kami harus kembali ke dunia realita, kami harus pulang ke rumah.

Entah kenapa kendati berada di tengah keramaian, di antara kaum “para bangsawan”, kami merasa keadaan “biasa”, agak “sunyi”, kami merasa tak ada istimewanya. Satu hal yang membuat kami terkesan adalah penampilan Paman A yang selalu penuh kesederhanaan. Ya, ia orang yang sederhana dalam menjalankan hidup, namun penuh kemewahan dalam hal menjamu teman-temannya, baginya, teman-temannya adalah raja, yang selalu harus mendapatkan pelayanan terbaik darinya.

Kembali mengingat apa yang telah diajarkan mama, “jangan kamu menilai orang dari harta kekayaan materinya, pun jangan pula kamu menilai seseorang karena parasnya yang indah, tapi pujilah mereka yang memiliki kebesaran jiwa dan baik hatinya… berbahagialah bila kamu menjumpai orang semacam itu, karena ia adalah orang yang layak menginspirasi dunia ini…”. Ehm.. cari tempat yang sunyi.. renungkan sejenak.. “adakah orang-orang disekitar anda yang berhati mulia? apakah orang tersebut menginpirasi hidupmu?”… oke.. see you on my next article (kalo ada waktu nulis).


  1. ika

    So nice….
    Anda penulis yang berbakat dan lucu

  2. Terima kasih Mba Ika atas pujiannya, maaf baru bisa membalas sekarang… saya bukanlah seorang penulis yang berbakat, cuma someone yang numpang cerita di jagat internet ini dan berharap semoga menginspirasi khalayak ramai😀




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: