Antara Aspirasi Hidupku, Kamu dan Dia

Man Seeking for Perfectionism

Man Seeking for Perfectionism

Tak terasa perjalanan hidup yang aku lalui telah memakan waktu seperempat abad. Selama perputaran waktu yang tergolong singkat tersebut, telah banyak hal aku alami, tiap lembaran hidup ini penuh dengan kisah-kisah yang indah maupun menyedihkan. Tawa canda dan ratap tangis senantiasa silih berganti, datang dan berlalu begitu saja, bagai angin yang bertiup dan tak pernah kembali seutuhnya seperti sediakalanya.

Semenjak detik-detik terakhir masa kuliah aku, aku sadar bahwa hidup yang akan kutempuh ini bukan jalan yang rata sebagaimana yang diimpikan banyak orang. Dalam rentang waktu tertentu sampai pada suatu waktu tertentu, aku perlu menghadapi segala jenis rintangan yang mungkin sebagian besar orang akan menyerah sebelum merasakannya. Orang lain boleh menghindari kesukaran hidup, tapi tidak denganku, justru inilah nikmatnya menjalani dinamika hidup. Semua pahit getir hidup ini tidak lain adalah demi sebuah cita-cita, sebuah karir dan pengharapan yang luar biasa.

Tidak sedikit caki-maki dan hinaan yang telah aku makan mentah-mentah, tanpa membalas sedikit pun. Aku ingat betul, dari semenjak aku duduk di bangku sekolah dasar bahkan hingga saat ini, aku sering direndahkan oleh banyak pihak bahkan mungkin keluargaku sendiri, meski dengan intensitas yang berbeda. Tapi satu hal yang mungkin pernah aku lupakan, aku sadar dan pasti, setiap getir kehidupan tersebut senantiasa membuatku semakin matang, aku mengevolusikan diri menjadi seseorang yang tidak pernah sama sebagaimana yang orang perkirakan. Malah, banyak dari mereka telah berhasil membuka mata dan menyadari bahwa aspirasiku dan mereka tidak akan pernah sama, karena memang aku tidak pernah menempatkan aspirasi yang sama dengan mereka, bagaimana mereka bisa tahu pencapaian apa yang menjadi tujuan utamaku? Namun, ada hal yang patut kusyukuri, orang tuaku mulai memahami jalan yang kutempuh, mereka tahu, apa yang aku lakukan bukanlah aspirasi hidup yang biasa-biasa saja, sebab aku memang tidak pernah ingin menjadi orang yang biasa-biasa saja. Sungguh tak pantas, bila memang mampu, kita mengisi hidup ini dengan cara yang biasa-biasa, dunia tidak akan pernah berbeda dengan hari sebelumnya bila setiap orang hidup biasa-biasa saja.

Banyak orang bertanya padaku, bila memang aku ingin merubah wajah dunia ini, bagaimana caraku untuk mewujudkan gagasan ini? Tentu saja bila aku uraikan apa yang ada dipikiranku, banyak orang yang akan bingung dan sulit mencernanya. Tapi aku punya satu contoh yang mudah sekali kita manifestasi. Contohnya, saat ini, aku sedang mengetikan baris-perbaris rangkaian kata-kata yang mengisahkan sebagian kecil kisah hidupku, secara tidak langsung, bila anda menempatkan situasi dan kondisi yang memadai, pasti akan memahami apa arti tulisan ini, apa dampak yang akan ditimbulkan bila dibaca oleh orang yang tepat frekuensi alam pikirnya. Bukankah semua itu baik langsung maupun tidak langsung telah mempengaruhi hidup anda?

Aku sadar, aku tidak akan mampu mengubah wajah dunia ini dengan mengumbar pidato dihadapan banyak orang yang notabene belum tentu berada dalam frekuensi tingkat pemikiran yang sesuai dan memadai dengan alam pikirku, tapi aku bisa membuat orang-orang yang memang secara khusus datang dan membaca tulisan ini tanpa perlu aku memohon dan berlutut agar mereka mau meluangkan waktu untuk membaca tulisan orang. Karena memang mereka berjodoh dengan tulisan ini.

Suatu ketika aku melihat kucing yang mengejar seekor tikus. Kemanapun tikus berlari, kucing itu akan membawa pandangannya yang tajam ke arah tikus tersebut, berharap sewaktu-waktu dapat menyergap tikus tersebut. Proses pengejaran berlangsung lama. Ketika itu, bukan aku saja yang melihat pemandangan ini, ada beberapa teman yang melihat hal tersebut. Memang aktivitas kucing yang mengejar sang tikus ke sana kemari bukan merupakan suatu pemandangan yang menakjubkan, semua pasti menganggap hal tersebut wajar. Sekarang, aku ingin bertanya, bila salah satu dari kedua hewan tersebut tidak terlihat, apa yang akan terjadi? Semisalnya, kita hanya melihat si kucing dan tidak tampak si tikus. Tentu saja, hal tersebut akan membuat kita geli dan tertawa, sebab kita tidak tahu apa yang ada dalam benak si kucing, kita tidak tahu kalau dia sedang mengejar sasaran yang dibidiknya sejak lama.

Apa yang baru saja aku utarakan di atas, sering terjadi dalam bagian-bagian hidup ini. Kita senantiasa melihat orang dalam sudut pandang kita, sehingga kita menganggap hal tersebut tidak wajar. Kita menyebarkan kebohongan, isu dan menggosipi orang yang kita anggap aneh tersebut sebagai suatu hal yang menyenangkan. Kita suka menyakiti orang lain dengan cara yang kita anggap sudah sepantasnya, pada kenyataanya, semua yang kita umbar sana-sini tidaklah benar apa adanya. Tidakkah kita sadar justru kitalah yang menjadi orang aneh tersebut. Aku tidak menyalahkan orang-orang yang demikian, karena sebenarnya aku sudah banyak dan sering bertemu dengan orang-orang tersebut. Meski demikian, aku cukup bersyukur, banyak dari mereka yang sadar dan pikiran mereka berangsur-angsur terbuka, apa yang mereka bayangkan tidaklah sebagaimana yang mereka lihat.

Setiap orang memiliki aspirasi yang berbeda-beda, karena memang setiap manusia memiliki keunikan bakat dan kemampuan yang berbeda-beda. Apa yang menjadi aspirasi hidupku tidak akan sama dengan aspirasi anda. Semisalnya, anda boleh merasa tingkah laku teman anda aneh, sebab anda tidak mengetahui aspirasi yang hendak dicapai teman anda, itulah sebabnya anda merasa teman anda aneh, tapi pantaskah kita berbuat demikian?

Semasa mudanya, Matsushita yang miskin tergolong pemuda yang beraspirasi besar, kala semua membayangkan untuk membangun sebuah usaha, perlu berhutang, sebaliknya Matsushita tidak membenarkan hal tersebut. Ia bukan orang suka berhutang. Pendiriannya teguh, ia bahkan rela dipecat oleh atasannya karena dia merasa dirinya benar. Kini, kita tahu, kalau orang yang dulunya dicap aneh ini, bisnisnya besar dan melanglang buana kemana-mana, Matsushita telah berhasil membangun imperium bisnis multinasional.

Bagaimana dengan Soichiro Honda? Masa kecilnya dilalui dengan kehidupan yang begitu sukar, miskin, bahkan saking miskinnya, ia menyaksikan kematian saudaranya, hanya karena tidak memiliki uang untuk memeriksakan diri ke rumah sakit dan berobat. Masa remajanya harus dilalui sebagai yatim-piatu (banggalah kita yang saat ini memiliki orang tua yang utuh). Semangat Honda, telah membuatnya berhasil merintis pabrikan mobil kelas dunia. Honda kerap dianggap pebisnis lainnya sebagai orang aneh, dikala pabrikan mobil besar lainnya di dunia berlomba-lomba dengan kecepatan, Honda malah beraspirasi memproduksi mobil yang ramah lingkungan (kala itu, bensin masih murah). Honda beranggapan, kendaraan tidak harus memiliki kecepatan tinggi, tapi ramah lingkungan itu pasti. Contoh nyata adalah motor 4 tak, siapa yang memproduksi duluan? Sekarang kita lihat, visi Honda menjadi kenyataan di Indonesia, hampir semua motor produksi keluaran terbaru menggunakan mesin 4 tak, bagaimana dengan 2 tak?

Siapa yang tidak kenal Sergey Brin dan Larry Page? Oke, mungkin anda tidak kenal dengan nama yang baru saja aku sebutkan. Tapi, masa tidak mengenal Google? Sergey dan Larry merupakan pendiri perusahaan Google, sebuah perusahaan mesin pencari di Internet yang terbesar dan paling banyak penggunanya di dunia. Semasa mudanya, mereka bukan terlahir dari keluarga orang kaya. Tapi kini lihat saja, dalam waktu 10 tahun, mereka memiliki (masing-masing) US$16 Milyar, yang menempatkan mereka berdua masing-masing sebagai orang terkaya no. 15 dan 16 dunia (versi 2007). Tentu saja, semasa muda mereka, ketika di kampus, mereka dicap orang aneh (bila kuliah di Indonesia), tapi karena mereka berada di lingkungan yang toleransinya tinggi terhadap keanehan (wajar, tempat kuliah mereka cuma ada orang-orang pintar saja, yang pemikirannya tidak wajar bagi orang-orang awam). Saat itu, ketika menemukan Google, mereka bahkan tidak pernah berpikir untuk menghasilkan uang banyak dari teknologi mesin pencari Internet. Tapi kini, siapa yang berani bilang mereka aneh dengan ide-ide tergila yang ada dibenaknya?

Setiap orang punya aspirasi yang tidak sama, Matsushita mempunyai bakat dan aspirasi yang berbeda dengan Honda. Honda ingin memproduksi kendaraan-kendaraan yang ramah lingkungan dan mendistribusikannya secara massal. Sedangkan, Matsushita memiliki aspirasi untuk memproduksi peralatan elektronik yang murah dan terjangkau, serta membangkitkan perekonomian Jepang yang terpuruk karena perang dunia ke 2. Lain halnya dengan Sergey dan Larry, yang ingin merubah cara pengguna berinteraksi dengan dunia maya, mempermudah banyak aspek aktivitas online. Siapa dari kalian yang belum pernah merasakan manfaat Google? Fakta yang pasti, setiap orang-orang tersebut mempunyai aspirasi hidup!

Masing-masing dari kita tentu mempunyai aspirasi hidup. Tapi, mengapa tidak setiap orang mampu mewujudkan aspirasi hidupnya? Lama aku menghabiskan waktu untuk memikirkan hal ini, tidak lain, karena aspirasi tersebut tidak lagi berfungsi sebagai suatu hal yang penting diperjuangkan untuk mencapai kesuksesan, bahkan banyak yang tidak mampu mendefinisikan suatu pencapaian kesuksesan bagi diri mereka sendiri. Tentu saja, sukses bagi anda tidak akan sama dengan yang ada dalam alam pikirku, tapi apapun itu, tidak pantas bagi kita mendefinisikan pencapaian kesuksesan itu sebagai suatu hal yang haram dan mendistorsikannya dengan hal-hal yang bersifat religi, semisalnya, menjadi orang kaya adalah hal yang jahat dan tidak baik. Tentu, kalau menjadi orang kaya, kita semakin pelit dan tidak memperhatikan orang-orang susah disekitar kita, maka benar kita menjadi orang yang tidak sebaik dulu lagi. Tapi, bagaimana kalau suatu saat nanti aku menjadi orang kaya dan aku menjadi seorang yang sangat dermawan, membuka banyak lapangan pekerjaan untuk orang susah, mendirikan panti jompo, panti asuhan, sekolah? Tentu dengan menjadi orang kaya, aku menjadi orang yang lebih baik daripada sebelumnya (red. Belum kaya).

Sayang sekali banyak orang yang mendefinisikan aspirasi hidup sebagai hal yang bersifat keinginan yang bila diurutkan dalam sebuah daftar bisa mencapai ratusan. Tentu ini bukan lagi aspirasi, tapi keserakahan yang justru menjadi bumerang bagi diri sendiri. Aspirasi hidup kita yang sesungguhnya menjadi bias dan tidak terperinci secara pasti. Kita tidak punya konsep jelas dan cara-cara untuk memanifestasikan aspirasi tersebut, terlalu banyak sumber daya kita yang terbuang untuk hal-hal yang percuma. Itu sebabnya, kita perlu meluangkan waktu untuk berpikir sejenak (kondisi pikiran jernih dan terkendali), apa aspirasi hidup kita?

Ingat dengan Nelson Mandela, ia punya aspirasi hidup untuk membebaskan rakyat Afrika Selatan dari tekanan politik rasialisme. Semenjak tahun 1942, ia sering terlibat dalam aksi-aksi dan organisasi politik. Hidup Nelson tidak pernah sama lagi dengan keadaan sebelum ia memutuskan untuk mewujudkan aspirasinya. Sepanjang tahun 1950, ia sering menjadi korban tekanan kekuasaan. Ia dipenjara, pindah sana-sini dari penjara di pulau Robben, Pollsmoor di Cape Town dan penjara Victor Verster. Coba bayangkan kalau anda yang berada dalam posisi tersebut, bagaimana perasaan anda? Orang boleh menganggap Nelson bodoh, kenapa tidak menuruti saja keinginan penguasa malah menjadi seorang pejuang? Tentu Nelson punya aspirasi yang tidak sama dengan orang lain, ia merasa yakin akan apa yang ia perjuangkan, ia bukan berjuang untuk dirinya sendiri, jelas sekali ia ingin melakukan perubahan pada cara pandang dunia ini, politik Apartheid harus dienyahkan!!

Pada 11 Februari 1990, Nelson baru dibebaskan. Nelson berhasil menerima hadiah Nobel Perdamaian pada tahun 1993 dan terpilih sebagai Presiden Afrika Selatan untuk masa jabatan 10 Mei 1994 hingga Juni 1999. Tentu saja, hal ini tidak akan mungkin bisa terjadi, bila tidak pernah terlintas dalam benaknya suatu aspirasi untuk memperjuangkan HAM dan persamaan ras di Afrika Selatan! Oleh karenanya, keputusan untuk menentukan suatu aspirasi hidup merupakan langkah penting untuk mewujudkan harapan yang besar. Tentu saja untuk mewujudkan harapan yang besar, kita tidak bisa hidup seperti orang yang biasa-biasa saja. Pemikiran menjadi orang yang biasa-biasa harus dikikis sampai ke akar-akarnya dan tidak boleh dibiarkan berkembang dalam benak kita!

Aku sadar, waktuku untuk mengisi kehidupan ini tidaklah banyak, aku bahkan tidak tahu sampai kapan aku masih bisa bernafas dan menulis lebih banyak tulisan untuk diedarkan kepada khalayak orang banyak. Memotivasi tiap insan untuk berkarya yang terbaik bagi dirinya, keluarganya, masyarakatnya, dan terutama bagi bangsa dan negaranya. Mungkin esok, lusa, minggu depan, bulan depan, tahun depan, sepuluh tahun atau pada suatu waktu tertentu, aku tidak dapat lagi mengetikkan jari-jemari yang haus akan karya tulisan. Tapi aku bisa pastikan satu hal, bila saat itu tiba, aku akan tersenyum bahagia, sebab aku melihat banyak insan di negaraku yang berhasil merubah wajah dunia ini, menjadi lebih baik. Demikian juga dengan diriku, apa yang menjadi harapan di masa lalu menjadi suatu kenyataan, sebuah aspirasi yang kerap dianggap sebagai mimpi berubah menjadi suatu yang nyata.

Hingga saat ini, ada hal yang membuatku terus bertahan hidup meski aku merasakan daya vitalitas hidupku semakin berkurang dari waktu ke waktu. Aku bermimpi, memiliki sebuah Holding Company yang besar, bahkan aku ingin membesarkannya menjadi sebuah perusahaan multinasional. Merubah cara hidup orang banyak, mengembalikan masa-masa jaya negara kita, Indonesia. Kala itu, orang luar negeri akan tahu, siapakah orang-orang Indonesia itu… Pada akhirnya, kelak aku tua nanti, semua kekayaan itu akan aku sumbangkan untuk aktivitas sosial, hanya sekian persen yang akan aku wariskan pada penerusku (biar mereka berusaha lebih tekun kalau mau berhasil!)

Namun, tubuh ini semakin lemah, dari luar aku terlihat begitu berstamina, tapi tampaknya rutinitas kesibukan sehari-hari telah membuat kesehatan tubuhku rentan. Tapi, itu semua tidak pernah membuatku mengeluh dan lari pada aspirasi ini. Bila aku letih, aku sering memaki tubuh ini, “Mengapa kau begitu manja, aspirasi hidupku belum terpenuhi, kau tidak boleh beristirahat dan berhenti membantuku (red. Pikiranku) untuk mewujudkan sebuah gebrakan perubahan besar!!” Dengan melakukan itu, aku merasakan hidupku mendapatkan tenaga baru yang luar biasa.

Entah kapan aspirasi aku akan menjadi kenyataan. Namun, aku yakin dengan seyakin-yakinnya, selama aku masih menghembuskan nafas, semua aspirasi ini pasti akan menjadi kenyataan. Dalam hidup ini, terus terang begitu banyak keajaiban telah aku alami, pencapaian yang tidak mungkin pun banyak yang terjadi. Namun, semua itu tidak akan pernah membutakan mataku untuk melihat realitas tanpa berusaha meninggikan diri. Kemarin adalah sebuah kenangan, hari ini adalah sebuah tuntutan berkreasi, esok masih sebuah misteri!

Thank you for visiting Asian Advantage


  1. tjah ayoe

    aku suka sama tulisan anda, aspirasi dan kembangkanlah jangan hanya stagnan disatu tempat padahal banyak hal-hal di dalam benak kita yang ingin sekali kita wujudkan.
    Terima kasih karena telah ijinkan aku tuk baca tulisan anda. Semoga apa yang anda harapkan segera terwujud. Amin.

  2. Daniel

    Wah terus berkarya sur , Tuhan beserta mu dan kita semua. THanks buat Blognya jd bacaan tetep gw . nih🙂 TOP

  3. nurhasanah

    Hari ini, Syukur saya browsing & menyimak tulisan ini & membuat saya tersenyum atas kebenaran tulisan ini.
    bagi yg nulis saya doa kan sehat wal afiat — Nunui




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: