Manusia Harta yang Bijaksana

Realita Hidup Apa Adanya

Realita Hidup Apa Adanya

Kemarin, aku jumpa-jumpa dgn teman-teman aku. Ngak nyangka, baru tidak bertemu sekian tahun saja, banyak yg sudah berubah drastis. Mereka telah sukses dalam pilihan hidup mereka. Ada yg bekerja di hotel bintang 5, ada yg kerja di perusahaan software house bonafit, ada yg buka usaha sendiri dan lain-lain. Hehehe, untung saja aku bisa kerja di perusahaan yg lumayan terkenal, jadi aku ngak perlu lumpatin neh muka. Bayangin deh, mau taro dimane muke Gue? Muke gile, hari gene masih nganggur gitu lho… wakaka.

Waktu itu, temen-temen aku adain pesta kecil-kecilan, aku sih ngak pernah ngusulin buat makan-makan di tempat wuih.. tapi ada aja yg merasa kalo banyak duit and mo bagi-bagi rejeki. Yow is, kalo ada yg mo berdana buat temen-temennya, rejeki jgn sering ditolak oiii. Makannya sih lumayan banyak (alias banyak banget!!), sampai-sampai aku mikirin bon yg bakal ditagih ama pelayan, bisa membengkak oiii, kantong cepet kering neh. Tapi cuek aja, ada bos yg kantong tebel, katanya abiz dpt rejeki, so what gitu lho!?

Bener aja, waktu gw liat bon-nya, digitnya banyak oi, hampir 7 digit. Gila…, gimane neh, dompet aku lg kering lagi, mesti dicemplungin ke baskom kali, biar basah semua, puas.. puas…!? Tak sobek-sobek mulutmu… (gitu deh kata si Tukul…) Ok, enough dgn candanya, ntar para pembaca mengira ini cerita kabur dan pada kabur semua ntar.. hehehe. Tp, jgn panik dulu, aku masih ada ATM, tp yg lebih uuuuiiiii, neh semua ditanggung bos, ngapain pusing.. botol juga yee..??

Udah, udah dibayar semua, tp.. ada tapi.. nya lho..! belakangan setelah kita udah mo pulang, doi bilang ke aku, acaranya sih seru, tapi duit-nya jg abiz banyak, aku liat mukanya rada sedih dikit karna duitnya melayap gitu aja ke tangan pemilik restoran. Yo wis, aku Cuma bilang aja, “Duit kamu tuh sebenarnya ngak hilang, Cuma berganti wujud aja, tadi kan kamu baru menukarkan duit kamu dgn makanan dgn tujuan untuk menyenangkan temen-temen kamu yg udah lama ngak temuan. Anggap aja ini buat bina relasi, siapa tau kelak, ada satu diantara sekian dari kita yg kelak akan menjadi rekan bisnis bersama. Anggap aja menebar biji buah, ntar suatu saat kamu sendiri yg bakal rasain sendiri nikmatnya rasa buah itu… (hehehe, tumben, aku bisa ngomong kata-kata yg lumayan berkesan, biasanya kan aku suka gagap!! Hahaha)”

Sesungguhnya, kita harus sadar, hampir setiap hari, waktu kita, dan mungkin, kita habiskan untuk mencari uang, uang dan uang. Seperti apa yg telah aku lakonin semenjak kuliah hingga sekarang. Tanpa maksud menyombongkan diri, karna aku emang ngak bermaksud buat gitu. Tapi ini sekedar sharing aja. Ngak apa-apa kan?

Untuk membekali diri dgn ilmu yg up-to-date, sering aku beli buku yg ratusan ribu dgn uang sendiri, uang dari hasil mengajar anak-anak les. Emang salah aku juga kali yach… aku malas minta uang pada ortu, males merepotkan mereka dgn pengeluaran tambahan yg sebenarnya bisa pakai uang sendiri. So, ini pelajaran hidup nomor 1, kalau punya uang sendiri, ingin membeli kebutuhan kita sendiri, sebisa mungkin jgn mengandalkan uang orang lain untuk membeli sesuatu yg merupakan keinginan pribadi kita. Kata bokap aku, ciri-ciri orang yg sukses dan besar adalah, selalu berusaha untuk tidak merepotkan orang lain. Malah, orang besar lebih suka memberi daripada menerima.

Pernah gak kita kalau menerima barang, kemudian mengatakan “TERIMA KASIH”? Aku yakin, hampir semua dari kita akan mengatakan demikian, tapi pernahkah kita sudah selaras dengan kata-kata yg baru saja kita ucapkan tersebut. Aku tidak bermaksud untuk mengajar orang lain, karna aku sendiri juga butuh belajar banyak dari orang lain, tapi, ini penting buat jadi renungan bersama. Kita suka mengatakan “TERIMA KASIH” karena kita MENERIMA suatu barang/jasa. Tapi, apakah kita pernah MENGASIH barang/jasa hasil dari penerimaan tersebut ke orang lain. Kita acapkali lebih suka menerima kemudian MENYIMPAN-nya daripada melatih KEMURAHAN HATI kita untuk memberikannya ke orang lain. Aku pun, masih suka berpikir seperti ini.

Misalnya pada suatu hari, kita dapat uang jajan dari ortu kita, uang itu pas-pasan untuk makan dan ongkos. Karna kita mau belajar berhemat, kita pulang jalan kaki dan tidak naek angkot. Kemudian dijalanan kita liat seorang tua renta tidak berdaya, saat itu kita timbul rasa belas kasihan dan empati pada orang malang tersebut. Pertanyaannya, apakah kita mau merogohkan uang yg telah kita hemat dari hasil tidak naek angkot malah bercape-cape jalan kaki kiloan meter hanya untuk diberikan ke orang itu? Tanpa bermaksud mengumbar-ngumbar, aku sudah sering melakukan hal itu, bukan hanya sekali, sepuluh kali, seratus kali, tapi sudah dalam tahap tidak ada sama sekali diingatan ini. Tapi, setiap kali aku beri, uang itu memang sudah tidak ada di kocek aku lagi, tapi, kebahagiaan karna melihat senyuman orang malang, sungguh bahagianya sulit diutarakan dengan kiasan kata-kata.

Ada lagi contoh, pernahkan kita berusaha untuk menyebarkan pengetahuan kita yg begitu bermanfaat bagi kehidupan orang lain, tidak hanya di masa kini, tapi jg di masa mendatang. Kita sekolah, banyak dapat ilmu dan pengalaman, entah dari guru, teman, lingkungan dan lain-lain. Tapi tetap saja semua itu masih tidak mampu menandingi ilmu yg sudah ortu aku ajarkan pada aku. Papa dan Mama aku bukan seorang guru, bukan seorang pendidik dgn title sarjana, juga bukan seorang professional pendidikan, tapi berkat mereka, tercetaklah aku (orang yg tidak begitu pandai, sederhana dalam banyak hal, tak banyak tercemar dgn pergaulan hiruk-pikuk kota, agak old-fashion) yg sering dibanggakan oleh sanak keluarga Papa dan Mama (meski ngak hebat-hebat amat, tp aku tidak jd pengangguran dan bisa cari uang sendiri dan tidak memfoya-foyakan uang orang tua).

Selama ini, Papa dan Mama banyak mengajarkan aku ilmu kehidupan yg sangat relevan untuk diterapkan dalam banyak sector, ilmu-ilmu yg terlupakan dalam kajian pendidikan formal, apa itu? Ilmu budi pekerti, ilmu keluarga, ilmu bisnis (yg diajarkan turun-temurun oleh leluhur aku), strategi, manajemen dan banyak ilmu lainnya yg tidak akan pernah anak muda zaman sekarang temui lagi bila terlahir sebagai warga keturunan di Indonesia. Bahkan, di China sendiri, ilmu semacam itu sudah dianggap usang oleh anak-anak muda di China ataupun Negara-negara lainnya yg banyak ditinggali orang Chinese.

Kebetulan aku punya anak les yg kurang dihargai hasil kerjanya di sekolahnya, sehingga butuh banyak bantuan aku untuk mengubah dari hal yg tidak mungkin diperbaiki menjadi sebuah kekuatan untuk menjadikannya sesuatu yg termanifestasi. Ia sering diambang tidak naik kelas, aku sbg pengajarnya sering merasa iba dan berusaha dlm banyak gagasan untuk mencari solusi yg serba rumit ini. Sungguh beruntung, banyak ilmu mental dan psikis yg telah aku peroleh dari Papa dan Mama, aku terapkan untuk mengajar anak itu, membimbingnya, syukurlah ia sudah naik kelas dan sukses. Aku mengajari dia hampir 3 tahun, tidak terkira uang yg aku terima dari anak yg satu ini. Tapi bukan uang yang utama, kebahagiaan dan kesuksesan ia yg merupakan hal yg paling bisa membuat aku bahagia, ngak yg lainnya. Selama 3 tahun, banyak ilmu keluarga aku yg aku tanamkan dalam karakter sang anak tsb. Tapi, aku ngak jamin semua diserapnya, bisa serap 10% saja sudah cukup bisa membuat hidupnya sukses dan berhasil.

Dalam banyak kesempatan, banyak orang yg suka bertanya bagaimana cara untuk masuk perusahaan bagus dan bergaji lumayan (besar)? Kalau aku menghadapi pertanyaan semacam ini, aku hanya bisa berkata, “Kalau ingin mendapatkan sesuatu yang besar, harus pula memberi umpan yang layak. Selayaknya kita ingin mendapatkan pasangan hidup terbaik, bagaimana mungkin kita akan mendapatkannya kalau kita tidak menanam perhatian pada calon pasangan hidup kita tersebut. Perhatian saja tidak cukup kalau tidak ada aksi sedikit agresif (maksudnya, kalau kita mau sukses belajar, bagaimana mungkin Cuma berdoa saja tanpa belajar mati-matian, ngak bakal suskses gitu)”, lebih lanjut, “Dunia akan memberikan apa yang pantas kita terima kalau kita sudah mengorbankan usaha dan kerja keras untuk kita berikan pada dunia ini. Orang berbakat dan berhati mulia, tidak akan pernah dikecewakan dunia. (aku memang bukan orang berbakat dan berhati mulia, tapi aku sedang belajar untuk menjadi orang seperti itu, hehehe)

Kesibukan kita mencari harta memang perlu, sebab hidup tanpa uang memang serba sulit, akan banyak hal buruk yg akan terjadi, kriminalitas terjadi karena himpitan ekonomi. Tapi, jangan lupa, harta yg sesungguhnya kita cari yg paling utama dalam hidup ini tidak perlu dicari jauh-jauh, ia tidak ada di luar tubuh kita, ia memang sudah ada di dalam tubuh kita. Apa itu? KEMURAHAN HATI, jiwa welas asih yg murah hati merupakan kunci untuk menggapai impian-impian yg besar. Itu yg seharusnya kita pupuk. Harta hilang, bisa dicari lagi, jiwa kita hilang, mau cari dimana? Itu tak pelak hidup seperti mayat hidup, tanpa arah, tidak tahu tujuan kita di dunia ini untuk apa.

Akhir kata, bila ada ungkapan yg kurang berkenan di hati, mohon maaf atas ucap kata tsb. Sampai jumpa di tulisan mendatang…

Thank you for visiting Asian Advantage


  1. bagi orang jawa timur pasti tahu
    jer basuki mawa beya😀

  2. Tak ada yang sia sia…. apapun itu semua dalam kesinambungan yang bermanfaat😉

  3. Hua… panjang banget postingnya

  4. Trims bro Jauhari & bro Ario atas komennya, rajin2 mampir yach😀

  5. Panjang bener dede Culay, males bacanya hehehehe😀

  6. Daniel

    Sur someday loe akan jadi org besar … Sukses sur buat loe . nice Blog

  7. hidup hanya satu kali… kenapa kita mesti hidup apa adanya… berikan yang terbaik kepada hidup kita, baik untuk ibadah kita, orang tua kita, saudara kita, bahkan untuk masyarakat di sekitar kita
    salam kenal😀

  8. sangat memotivasi,ijin copas gan?




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: