DAAI TV: Sarat Akan Siaran Yang Menyentuh Hati

DAAI TV Building Taiwan

Tidak terasa, aku sudah bernafas selama 23 tahun. Kadang kalau sedang merenung sendiri di tengah hiruk-pikuk keramaian, aku sungguh tidak bisa mengerti apa yang akan menjadi cerita kelanjutan dari hidupku. Meski aku bukan seorang yang hidup dengan tanpa pendirian dan keyakinan. Namun, memang tak selalu apa yang kita harapkan dapat terwujudkan. Karena begitulah halnya kehidupan ini harus dilalui, segala bentuk penderitaan hanyalah merupakan alat yang membantu kita untuk hidup terus dan terus bertahan untuk kehidupan yang lebih baik.

Malam ini, aku baru saja menyaksikan film berseri “Kasih Tanpa Batas” yang disiarkan oleh DAAI TV. Entah mengapa, setiap kali menyaksikan acara yang ditayangkan oleh DAAI TV, selalu membawakan suatu perasaan yang sulit aku ungkapkan. Sepertinya ada yang menekan dada ini, sakit. Tapi, aku tidak bersedih, tapi bahagia hingga meneteskan air mata. Bahagia karena menyaksikan keberadaan insan-insan berhati mulia yang bertebaran di mana-mana. Sungguh, dunia ini masih banyak dipenuhi orang-orang yang berhati mulia.

Seorang guru yang tinggal tak jauh dari Sungai Kuning di China, dengan kondisi cacatnya (penyakit otot melemas karena kekurangan gizi), berjuang selama puluhan tahun bersama dengan istrinya yang berhati mulia. Mereka berjuang demi memberantas kebodohan dan ketertinggalan di desa mereka. Mereka yakin, bibit-bibit unggul akan mampu berjuang demi harkat dan martabat bangsanya dari ketertinggalan. Dengan gedung sekolah yang pas-pasan dan segala keterbatasan, mereka bisa memberikan pendidikan pada orang mampu dan tidak mampu secara adil dan merata. Bahkan, tak sedikit murid-murid mereka dapat mengenyam pendidikan dari mereka tanpa bayaran sepeser pun!

Kisah nyata film itu mengajarkan pada aku betapa pentingnya kita menilai sesuatu bukan dari bentuk fisik luar saja. Bayangkan, istri dari guru yang cacat itu, dapat mencintai dan mendukung suaminya yang cacat. Ia bukan seorang wanita yang tertinggal dalam hal kepandaian. Ia seorang wanita yang sangat cerdas, ia seorang wanita yang berprestasi se-kabupaten di daerah tersebut, bahkan dengan nilai terbaik ketika masih duduk di bangku sekolah. Akan tetapi, rela pergi ke tempat yang jauh dari rumahnya, hidup berumah tangga dengan guru yang cacat itu dan bersedia menjadi guru, secara bersama-sama mengentaskan kebodohan di desa tempat mereka tinggal tersebut. Ini menandakan kualitas seseorang untuk bisa dicintai oleh lawan jenis tidak selalu dinilai dari materi maupun kerupawanan. Akan tetapi, semangat cinta kasih yang besar pada sesama, juga bisa meluluhkan hati orang lain, sehingga mereka mau mencintai kita pula.

Semakin hari menyaksikan tayangan-tayangan yang disiarkan DAAI TV, semakin mantap hati ini untuk menetapkan jalan hidup. Apapun yang dihasilkan dari hidup yang begitu singkat ini, setidaknya ada sesuatu yang berarti yang dapat kita sumbangkan pada sesama. Menyumbangkan sesuatu yang bermanfaat pada sesama, tidak selalu identik dengan menyumbangkan materi, tapi bisa juga dengan menebarkan semangat cinta kasih. Sulit rasanya mempercayai apa yang aku saksikan dalam acara-acara di satu-satunya stasiun televisi swasta yang berorientasi non-profit itu. Kenapa ada orang yang mau bersusah payah membantu orang-orang lain yang mereka tidak pernah kenal, sudah punya banyak uang, masih juga sanggup mengeluarkan segala daya tenaga untuk membantu orang lain. Terlebih, wajah mereka memancarkan kebahagiaan yang amat sangat.

Insan-insan Tzu-Chi ini hadir dalam wadah yayasan yang berembelkan “Buddha” pada namanya. Akan tetapi, tidak seperti apa yang telah aku kira sebelumnya, mereka mampu membawa kehangatan pada umat beragama lainnya tanpa pengecualian. Terlebih, mereka membawakan pesan misi cinta kasih yang mendalam secara universal! Suatu keteladanan yang patut dicontoh! Aku, yang menulis artikel ini, jikalau bisa memperoleh 10% dari hati dan semangat mereka ini, merupakan keberuntungan yang amat sangat!

Benarlah adanya, untuk memulai suatu karya besar, semua harus bermula pada diri sendiri. Apapun yang terjadi dikemudian hari, adalah berdasarkan keputusan yang ada pada pikiran kita sendiri. Oleh diri sendiri, kita bisa menjadi orang baik dan terpandang. Oleh diri sendiri, kita bisa menjadi orang yang tidak baik dan hina. Jangan pernah merendahkan diri sendiri karena keterbatasan yang ada pada diri kita, karena sesungguhnya banyak hal yang kita miliki yang tidak dimilika orang lain. Begitu pula dengan kegiatan menebarkan kebaikan bagi sesama, tiap orang entah kaya maupun miskin, entah bodoh atau pintar, entah rupawan atau tidak, selalu memiliki kesempatan yang sama!


  1. yenny lan

    Selamat siang DAAI TV, saya sangat senang dengan tayangan yang disajikan oleh DAAI TV ini. Saya ingin bertanya, apakah DAAI TV membuka lowongan / kesempatan untuk kami mengirimkan sebuah karya cerita? Trima kasih. Mohon dibalas.

  2. saya suka banget nich Film, pengen banget nonton lagi.
    DAAI TV plis tayangin lagi donk😀

  3. halo , DAAI TV bagus banget, kemarin sempat nonoton galadiol bersemi , mengajarkan kita betapa pengorbanan ortu begitu besar pada kita…. maju terus DAAI TV………

  4. DAAI TV acaranya memang menyejukan, di tengah siaran tv yang penuh mistik, dan kekerasan, hadirnya DAAI tv bisa menjadi pilihan lain tontonan yang mendidik dan bermanfaat. selamat atas hadirnya DAAI TV. lambat laun, pati akan menjadi tv besar dan favorit masarakat.




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: