SuaraTransJakarta.org – Komunitas Pengguna TransJakarta Busway di Open House Republik Mimpi MetroTV

Suray di Harian TransKota

Tepat hari Jumat, 30 November 2007 yang lalu, saya berkesempatan untuk hadir dalam acara Open House Republik Mimpi di MetroTV, kebetulan saat itu tajuk yang diangkat seputar permasalahan angkutan massal TransJakarta di Jakarta. Selanjutnya saya akan menceritakan secara flashback saja.

Siang itu, saudara Andrayogi secara mendadak mengajak saya untuk mengikuti acara yang saya sebutkan di atas (Republik Mimpi). Saya kira dia bercanda, tapi kelihatannya dia serius, ya, serius berchatting dengan kawan-kawannya. Ternyata, dia sedang mengontak teman-teman sesame pengguna busway untuk menghadiri undangan dari MetroTV kepada para member SuaraTransJakarta.org. Salut juga saya, padahal situs SuaraTransJakarta.org yang dirilisnya masih berusia begitu muda, tapi sudah mampu menjaring banyak pengunjung. Memang saudara Andrayogi ini seorang yang lihai dalam membaca situasi perkembangan dunia maya.

Saat mendengar ajakan saudara Andrayogi, saya sebenarnya ingin menolaknya, karena saya harus mengajar anak les saya. Sebenarnya hari Jumat, saya tidak perlu mengajar anak les saya. Namun, karena ujian semester tinggal beberapa hari, dengan penuh kerelaan, meski hari Sabtu atau Minggu, saya merelakan waktu untuk mengajarinya. Tapi, dengan adanya ajakan ini (Republik Mimpi), maka saya harus membatalkan acara melahap Matematika dan Fisika. Saya setujui ajakan Andrayogi dan membatalkan acara mengajar itu.

Waktu pukul 5 sore, jam kantor berlalu, saya dan Andrayogi menaiki angkutan KWK dari Kelapa Gading dan berhenti di halte Busway. Wah, kami menunggu cukup lama, sambil menghirup bau keringat dari pengguna Busway lainnya di halte itu. Penuh dengan desakan, sehingga saya dan Andrayogi perlu menunggu hingga bus ke 4 tiba. Dengan gaya yang sangat elegan, kami mendekam di Busway. Bung Andrayogi sedang sibuk mengontak temannya yang bernama David (seorang pengguna Busway yang bekerja di tempat prestisius, IBM Indonesia). Butuh 45 menit hingga sampai ke halte Busway di depan Landmark Building. Sungguh melelahkan!!

Saya dan Andrayogi telah sampai ke gedung Landmark Building, tampaknya perjalanan panjang di Busway tadi membuat saudara Andrayogi kepanasan hingga bermandi keringat, untung saja dia membawa parfum semprotnya, sehingga keadaan jadi berbeda dari yang kita bayangkan. Dua orang keluar dari lift, pria dan wanita. Kami berjabat tangan, saya mengenalkan diri. Oh, ternyata orang ini yang bernama David, seorang lagi bernama Nita.

Sekedar bercerita tentang kesan pertama saya dengan David, beliau adalah seorang tipe pemikir, serius, dan konsisten dengan perkataannya. Hal lain yang saya ketahui tentang beliau dari saudara Andrayogi adalah, beliau seorang yang tidak suka pamer meski kaya raya. Meski berkendaraan beroda empat, beliau suka pergi ke kantornya di Landmark Building dengan sepeda dari rumahnya di Kelapa Gading (dia adalah salah seorang anggota Komunitas Pekerja Bersepeda Indonesia). Terkadang dia ke kantor dengan menggunakan Busway. Orang yang tidak mengenal dia, akan mengira ia seorang yang pelit atau mungkin tidak kaya. Tunggu dulu, jangan salah, beliau bercita-cita untuk membirukan langit yang tidak biru ini karena polusi kendaraan bermotor. Suatu cita-cita dan perilaku yang patut diteladani.

Sedangkan Nita, ia adalah seorang wanita yang manis, terkesan dewasa, baik dari suara maupun gaya tubuhnya. Ia adalah seorang wanita dari Manado, lulus sarjana dibidang Sastra Inggris, seorang wanita yang cerdas, tak heran kalau ia berkarir di IBM Indonesia. Aku cukup terkesan oleh rupa dan pemikirannya. Seorang wanita yang terbuka, hingga aku sangat ingin bercakap-cakap lebih banyak dengannya. Hanya, aku seorang pemalu, sehingga nomor handphone maupun alamat emailnya pun tidak berani aku tanyakan.

Ok, kami berangkat dengan taksi, kami langsung menuju ke TKP (MetroTV). Sesampai di sana, saya takjub, karena stasiun TV yang dimiliki oleh Surya Paloh ini begitu beken. Oleh kru MetroTV, kami dipersilahkan makan dengan mengambil makanan di lantai 2. Kami berempat (saya, Andrayogi, David, Nita) ke lantai 2. Kami tidak langsung mengambil makanan, sebab kami perlu jaga citra juga. Eh, tampak seorang wanita yang cukup tinggi, paras cantik, wajah oriental, elegan, ternyata dia adalah Olga Lidya, salah seorang kru di Republik Mimpi. Sayang, tinggi badan saya kurang dari dia, jadi, saya perlu melupakan dia.

Kami makan, tentu diiringi dengan doa, akhirnya pengguna Busway lainnya tiba, begitu pula dari kawan-kawan mahasiswa/i Univertas Indonesia, Universitas Muhammadiyah, dll. Mereka diundang oleh MetroTV. Diantara tamu yang diundang, tampak hadir pula beberapa orang dari warga Pondok Indah, kawasan rumah elit, penghuninya sangat kaya raya. Maklum ya, pembaca terhormat, kalo ada gaya bahasa yang kesannya hiperbolis.

Sebelum acara dimulai, dilakukan gladi resik dulu di salah satu aula shooting MetroTV untuk Republik Mimpi, saya bingung, kok beda dengan yang saya nonton di TV, ternyata hari itu, pak Wapres dari Republik Mimpi menginginkan format Open House. Karena agar acara berlangsung dengan nyantai dan terkesan natural, maka pihak kru MetroTV berusaha keras mengendorkan urat syaraf kami dengan hiburan nyayian yang agak kocak dan gokil. Sayang karena tempat duduk saya tidak memadai (saya cuma duduk dengan separuh pantat, jadi ngak nyaman banget deh).

Selanjutnya acara terus berlangsung, hingga sesi pernyataan dari pengguna Busway, saudara David, mewakili SuaraTransJakarta.org, memberikan statementnya yang keren. Ada juga dari warga Pondok Indah yang diwakili seorang bapak yang saya lupa namanya, menyatakan uneg-unegnya dengan ancaman akan menggugat di pengadilan negeri, karena perumahan elit Pondok Indah telah dibuat jalur Busway.

Acara akhirnya selesai, sudah malam sekali, sekitar pukul 11 malam. Kami (saya dan Andrayogi), akhirnya harus berpisah mobil dengan David dan Nita. Kebetulan, Andrayogi ada teman yang dermawan, kami menumpangi mobilnya hingga turun ke tempat yang tidak saya ketahui namanya. Kami hendak ke Duri Kepa (rumah Andrayogi). Saya ke sana bermaksud untuk mencari suaka untuk semalam. Akhirnya, kami menaiki Bajaj yang keren dengan biaya hanya Rp. 7.000,-.

Sesampai di rumah Andrayogi, bung Andrayogi sudah menyalakan laptopnya dan melakukan koneksi Internet, tak lama kemudian, pimpinan harian TransKota menghubungi Andrayogi dan menanyakan perkembangan acara tadi. Foto yang saya sertakan di artikel ini merupakan hasil scan dari harian TransKota. Tampak sekali, foto yang dijepret oleh saudara Andrayogi, sangat mengenai paras saya, sedang wanita cantik berbaju ungu di foto itu adalah saudari Nita.

Esoknya, pukul 08.30 pagi saya diantar bung Andrayogi ke halte Busway di depan Mal Ciputra, saya menaiki Busway yang kea rah ASMI dan turun ke Senen, dan akhirnya saya berjalan kaki sekitar 1 km. Bah, saya sampai di rumah dengan kondisi badan letoi, sudah kecapean. Saya berbaring, sorenya saya mengajar 2 jam, kemudian saya pergi berbelanja di Carrefour Cempaka Mas.

Udah dulu ya… Dilain event, saya akan melaporkan lagi. Oh iya, saya emang agak jarang update blog ini, sebab konsentrasi saya lebih sering pada SurayBlog.


  1. gw pikir itu foto lo pas lagi nyopet di busway

  2. @Fido: Kurang ajar nih… anak.. Mo minta digampar ye?

  3. debby

    kebetulan yg namanya David Tjahjana a.k.a David itu adalah papah saya..hehe..
    thx for the comment..
    senengnyaa..

  4. @Debby:
    Oh ya…?? Hebat juga bisa nemuin artikel gw di blog ini😀 Salam kenal Debby…
    Oh… salam juga yach sama papa ente…




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: