Kriptografi: Sejarah Perkembangan [2]

Bidang ilmu yang satu ini, pada awalnya hanya populer dalam bidang militer, di mana metode kriptografi dipergunakan untuk menyandikan pesan dari pimpinan komando perang terhadap anak buahnya. Seiring dengan perkembangan zaman, kriptografi tidak lagi hanya dikenal di area medan perang saja, tetapi telah mencakup berbagai segi kehidupan.

Kini, kriptografi telah menjadi suatu area riset tersendiri bagi para ilmuwan di bidang matematika dan ilmu komputer. Hal ini, tidaklah mengejutkan mengingat banyaknya data dan informasi yang lalu lalang baik dalam dunia nyata maupun dunia maya (internet). Padatnya lalu lintas informasi tersebut, menuntut suatu sistem transfer informasi yang dapat diandalkan (reliable) terutama dalam segi keamanan terhadap kerahasiaan substansi data yang terkandung di dalamnya.

Kriptografi sendiri sebenarnya telah dipelajari manusia sejak tahun 400 SM, yaitu tepatnya pada zaman Yunani Kuno. Tercatat bahwa “Penyandian Transposisi” merupakan sistem kriptografi yang pertama kali dipergunakan. Dikatakan transposisi, karena bentuk penyandian yang dimaksudkan mempergunakan metode penukaran posisi abjad (yang masih sederhana). Kala itu, orang yang mendapatkan pesan yang tersandikan tersebut (tak terotorisasi) membutuhkan waktu yang lama untuk dapat memecahkan pesan tersandi tersebut. Seiring dengan peradaban manusia yang semakin maju, pesan tersandi tersebut (pada masa Yunani Kuno) hanya membutuhkan waktu beberapa detik saja untuk dipecahkan sandinya dengan bantuan komputer, yang memiliki daya komputasi dan pemecahan masalah kompleks yang luar biasa cepat.

Bidang ilmu ini memegang peranan yang penting dalam sejarah peperangan yang tercatat dalam sejarah peradaban manusia, dimulai dari sistem kriptografi “Caesar Cipher” yang dipergunakan pada zaman Romawi Kuno, hingga “Playfair Cipher” yang dipergunakan Britania Raya serta “ADFVGX Cipher” yang dipergunakan Jerman pada Perang Dunia I, hingga algoritma-algoritma kriptografi rotor yang populer pada Perang Dunia II, seperti Sigaba/M-134 (Amerika Serikat), Typex (Britania Raya), Purple (Jepang), dan mesin-mesin kriptografi legendaris Enigma (Jerman), hingga masa-masa pasca Perang Dunia II (perang dingin) seperti GOST (Gosudarstvennyi Standard) yang merupakan blok cipher dari bekar Uni Sovyet, nomor standar yang dipergunakan adalah 28147-89, sehingga sering disebut GOST 28147-89.

Sesungguhnya ilmu-ilmu yang membidani kriptografi ini adalah matematika, khususnya pada teori aljabar (teori matriks, vektor, serta transformasi linier), analisa numerik, dan saat ini sedang dikembangkan dengan teori kalkulus (teori integral dan teori differensiasi). Oleh karenanya, kriptografi semakin berkembang saat komputer ditemukan. Dengan adanya komputer, suatu perhitungan yang sangat kompleks dalam waktu yang relatif singkat dapat ditemukan solusinya, sesuatu hal yang sebelumnya tidak dapat dilakukan. Sejak saat itu, lahirlah banyak teori dan algoritma penyandian data yang semakin kompleks dan sulit untuk dipecahkan.

Saat ini, bidang kriptografi memiliki kemungkinan penerapan yang sangat luas, mulai dari bidang militer, telekomunikasi, jaringan komputer, keuangan dan perbankan, pendidikan, dan lain-lain. Dengan mudah dapat kita asumsikan, bahwa di mana suatu kerahasiaan data dan informasi merupakan masalah yang krusial, di situlah kriptografi memegang andil yang besar.

Produk-produk yang menerapkan kriptografi sebagai landasan operasionalnya pada dasarnya cukup beraneka ragam, mulai dari kartu ATM (Anjungan Tunai Mandiri), e-Commerce (perdagangan secara elektronis melalui internet), secure e-mail, dan sebagainya (simak tulisan-tulisan lanjutan yang berkenaan dengan topik ini).

Kriptografi: Latar Belakang [1]


  1. maman kusmana

    Sebagai warga negara yang mencintai negaranya, kita perlu mengetahui juga tentang perkembangan kriptogtafi di Indonesia, khususnya yang dipergunakan oleh Lembaga Sandi Negara, sudah sejauh mana tingkat kemampuan yang dimiliki dan dikembangkan dalam lalu lintas kominikasi rahasia di Indonesia. Rakyat perlu mendapat informasi bahwa Pemerintah Indonesia mampu mengembangkan kriptografi yang aman dari upaya penyadapan pihak-pihak tertentu.

  2. @Maman: Ini masukan yang berharga, negara kita memang memiliki kemampuan untuk mengembangkan kriptografi yang aman. Akan tetapi, melihat dari kondisi negara kita, saya rasa bila negara kita memiliki ilmuwan yang memiliki talenta sedemikian rupa, pasti ia lebih memilih untuk berlabuh ke luar negeri, terus terang, negara kita kurang menekankan pentingnya sains untuk kemajuan bangsa.

    Padahal, kita tahu di era yang sedemikian maju ini, bila suatu negara tidak mengoptimalkan kualitas sumber daya manusianya. Terlebih tidak memperhatikan faktor kebutuhan ekonomi dari rakyatnya, sukar kita mengatakan bahwa orang yang berbakat akan selalu siap sedia di sisi kita. Sangat jarang sekali orang di masa sekarang ini memilih bersusah-susah demi kemajuan negara dan mengacuhkan materi di depan mata.

    Kalau ingin sejujurnya saya katakan, kita masih perlu banyak belajar. Tak baik berpuas diri dengan mengatakan bangsa kita mampu. Alih-alih sebaiknya kita belajar berendah hati dan mengatakan “Kami masih perlu banyak belajar dari anda…”. Dengan demikian, bangsa kita tidak perlu menjadi sorotan asing. Menjadi sorotan asing itu tidak enak lho. Bayangkan, kalau hacker seluruh dunia menyerang Indonesia, bisa fatal akibatnya.

  3. SAYA SENANG DENGAN ILMU SEJARAH

  1. 1 Kriptografi: Algoritma Dasar [3] « Personal Blogs

    […] Kriptografi: Sejarah Perkembangan [2] Explore posts in the same categories: Computer […]




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: