Relativitas Daya Persepsi Manusia

Ada satu hal yang terus menjadi pertanyaan terbesar seumur hidup saya, ya, hingga kini. Sekiranya mengapa dan apa yang menyebabkan hubungan relasi manusia itu begitu dinamis. Merekonstruksi dan menjawab pertanyaan tersebut, saya mengajukan postulat dalam bentuk essay. Berikut adalah uraiannya.

Pagi-pagi, saya sudah harus mengejar kendaraan umum. Sesampai di sekolah (SMU kelas 3), saya membersihkan bangku dan meja belajar saya. Satu hal yang membuat saya tidak nyaman, saya perlu mengikuti pelajaran Fisika. Ya, itu adalah momok bagi saya. Dalam sejauh pandang, mata menerawang, sekiranya saya akan menghadapi proses belajar-mengajar yang membosankan dengan rumus dan teori yang cukup membuat kepala pening.

Hari itu, guru Fisika saya, pak Aziz, masuk dengan pakaian rapi dan wajahnya berseri. Entah kenapa, yang pasti ia tidak seperti biasa. Apa gerangan yang membuatnya berbeda sedemikian rupa? Oh, akhirnya beliau bersuara juga, dengan lantang ia mengatakan, “Hari ini, saya akan memberikan bahan yang paling saya gemari. Bersiaplah, kita akan memasuki Teori Relativitas!”

Teori Relativitas? Kedengarannya keren, sesungguhnya menakutkan. Pengantar yang saya sampaikan di atas, merupakan rangkaian proses pembelajaran yang meliputi daya analisis dan sintesis pemikiran saya akan proses Relativitas itu sendiri. Saya begitu tertarik dengan teori ini, hingga saya membawanya ke ranah kajian sosial, ketimbang ilmu pasti-nya itu sendiri. Adapun dasar kerangka pemikiran ini, “Apakah eksistensi dunia ini konstan dan sehaluan dengan pandangan manusia yang tinggal dalam bentangannya, ataukah seluruh fenomena eksistensial hanya merupakan suatu gugus rangsangan inderawi yang relatif?”

Manusia acapkali menilai sesuatu berdasarkan fakta empiris yang dirasakannya, dan ini bukanlah hal yang salah. Akan tetapi, suatu rangsangan indera yang diterima seseorang sebagai suatu “sensasi”, acapkali tak serupa dengan yang dialami pihak lain.

Semasa abad pertengahan, sebelum masa Renaissance, bumi diyakini sebagai pusat dari alam semesta, dan matahari berputar mengelilingi bumi. Seorang ilmuwan, Gallileo Gallilei menyatakan hal yang sebaliknya. Namun, nyawanya berakhir dengan tragis. Ini, adalah suatu contoh, apa yang akan terjadi seandainya suatu paham/pandangan/ilmu itu sendiri, mengalami proses analisis dan sintesis yang relatif. Apa yang diyakini seseorang, dapat terdefeksi bila diserap oleh orang lain yang memiliki latar belakang kultur yang berbeda.

Alur informasi, latar belakang kultur, letak geografis, dimensi pemikiran, interpretasi, proses nalar, serta kans yang bervariasi, menyuburkan proses relativitas daya persepsi manusia. Sehingga tak aneh bila hal yang paling hakiki, yang menyangkut doktrin dan keyakinan pun terkadang tumbuh subur hanya dalam suatu lingkup geografis tertentu yang diseminasi dengan label universal.

Dalam masyarakat civitas akademika, ragamnya konseptualisasi pemikiran dapat mencapai suatu konvergensi melalui adanya konsensus bersama. Sehingga hal ini, menjadi suatu wacana fundamental dalam membangun kaum intelektual pluralistik. Akan tetapi, bagaimana dengan masyarakat awam? Kenyataannya, masih jauh dari harapan yang memuaskan.

Kompleksitas wacana di atas, mungkin dapat diibaratkan dengan perumpamaan tiga orang buta yang tidak pernah melihat gajah sebelumnya, mereka dibawa ke kebun binatang. Karena begitu besar keingintahuan mereka, mereka ingin menyentuh (persepsi rangsangan indera) gajah tersebut. Salah seorangnya menyentuh belalai gajah, seorang lagi menyentuh gadingnya, sedang lainnya menyentuh ekor gajah tersebut. Mereka cukup puas dengan apa yang telah mereka ketahui masing-masing, tanpa berniat saling menukar informasi yang telah mereka peroleh. Bayangkan, kericuhan yang akan terjadi, seandainya distribusi informasi berdasarkan fakta empiris yang mereka alami.

Perumpamaan di atas, juga tidak dimaksudkan bahwa setiap informasi layak dikonsumsi secara mentah-mentah tanpa adanya filterisasi. Ini tidak lain karena bervariasinya variabel sebagaimana yang telah saya paparkan di atas. Bijaksana dalam menilai suatu informasi merupakan kunci fundamental dari degradasi mental yang dialami bangsa kita.

Dua jam bersama dengan pak Aziz telah berlalu. Namun, saya masih belum memahami hakekat dari apa yang ia bicarakan. Sehingga, dengan memberanikan diri, saya bertanya, “Pak, saya masih bingung, sebenarnya apa yang dimaksud dengan Relativitas?”, beliau menjawab, “Menurut Einstein, relativitas dapat diumpamakan sebagai suatu keadaan, yakni, saat kamu duduk bersama dengan wanita cantik selama satu jam, kamu akan merasa selayaknya duduk bersamanya selama satu menit. Ketika kamu duduk dengan seorang wanita tua renta selama satu menit, kamu akan merasa selayaknya duduk bersamanya selama satu jam”.




    Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: