Atheis: Hidup Untuk Suatu Tujuan?

Kadang melamun dan merenungkan hidup ini, dapat melahirkan sebuah ilham untuk menuliskan apa yang kita rasakan, berbagi dengan mereka (termasuk anda yang sedang membaca tulisan yang sederhana ini). Selanjutnya, saya akan mencoba menuangkan pemikiran itu dalam tulisan berikut…

Hari itu masih pagi, seorang pemuda, katakanlah namanya Ryan, pergi terburu-buru untuk mengejar angkutan umum. Ia bukan orang yang kekurangan, tapi memang sudah kebiasaannya selalu tampil sederhana, katakanlah orang tua dari Ryan patut merasa bangga atas putranya ini.

Ia seorang pemikir, penuh imajinasi. Hidupnya terproteksi dari hubungan persahabatan, sungguh, dapat menjadi sahabat karibnya dapat dikatakan sebagai orang yang hebat. Ia seorang yang pemilih, tetapi ia tidak pernah menolak kehadiran orang-orang dalam lingkup aktivitasnya.

Baginya, hidup untuk memberikan segala-galanya pada orang lain atau tidak sama sekali. Kalau sudah meludah, konsekuensi menjilat ludah sendiri tidak pernah ada dalam kamusnya. Eksentrik, namun tidak “overacting”. Ia hidup sebagaimana layaknya anak muda lainnya. Anggaplah, segala perbedaan dan keunikannya dengan orang sekitarnya tidak akan pernah tampak hingga anda menjadi seseorang yang berarti baginya, dalam arti, anda adalah sahabatnya.

Dunia tempat tinggal kita, serasa tidak pantas untuk anak muda ini. Dalam anggapan orang, Ryan mungkin seorang yang aneh. Akan tetapi, dalam pemikiran Ryan, orang-orang yang menganggapnya aneh, merupakan orang-orang yang aneh. Ryan heran, mengapa orang-orang sibuk membicarakan keburukan orang lain, alih-alih menyadari kesalahan dan kekurangan sendiri. “Gajah di pelupuk mata tak tampak, malah semut di seberang lautan yang tampak”, suatu peribahasa yang cocok untuk menggambarkan hal ini.

Suatu ketika, di kendaraan umum, sejauh pandang dilepaskan ke arah kerumunan orang yang lalu lalang berlalu lintas. Kegemaran berpikir membawanya pada suatu rangkaian daya analisis dan sintesa pemahaman. Dimulainya dari suatu pertanyaan sederhana, “Sesungguhnya apa yang menggerakkan mereka semua, ‘tuk terus beraktivitas sedemikian rupa…? Apakah yang orang-orang itu cari? Sibuk dengan kesibukan sehari-hari?”.

Ia merasakan suatu fenomena pencerahan akan pertanyaannya itu. Ia merasakan, betapa humanitas masyarakat di sekelilingnya telah hilang. Mengapa? Karena ketika ia melihat seorang nenek yang tua renta, tanpa sanak keluarga yang mengurus nenek itu, hingga memikirkan hari ini ingin makan apa pun tak sanggup! Nenek itu jalan terbatah-batah, ingin menyeberang… tapi… tapi…, tak ada seorang pun yang menggubris hal itu…. Tidak hanya itu, ia sering menyaksikan begitu banyak kesengsaraan yang dialami saudara-saudara “kita” yang berada dalam kondisi yang memilukan, ia mengulurkan tangan, tetapi orang di sekelilingnya hanya terdiam membisu dan menatap tanpa menawarkan uluran tangan apapun. “Where is our sense of humanity?”

Sekiranya, perlu adanya pemikiran ulang akan perilaku kita sehari-hari…, banyak tindak kriminalitas di mana-mana, bosan penulis melihat dan membaca pun meresapi berita yang memuakkan itu. Apa sih… yang dipikirkan orang-orang itu? Janganlah pernah menaruh harapan orang-orang akan pernah peduli sepenuhnya akan apa dibutuhkan sesamanya, kaum papa itu. Mereka terlalu sibuk dengan urusannya masing-masing, prinsip mereka “Di dunia ini, tak akan ada yang gratis!”. Baiklah, penulis anggap itu benar, tak keliru, setiap orang memiliki pilihan akan apa yang ia perbuat dengan kesadaran akan setiap konsekuensi yang pasti akan diterimanya.

Dalam mengarungi bahtera hidup, seseorang tidak perlu menjadi serang yang suci, setidaknya kita tak perlu menyakiti orang, baik secara psikis maupun fisik, yang mengakibatkan kerugian pada orang lain, tentu saja semuanya demi keuntungan pribadi.

Merekonstruksi pemahaman akan hal yang belakangan penulis utarakan, penulis jadi teringat, seorang kolega pernah memberi suatu nasehat, ia mengatakan, “Seseorang tak perlu memeluk suatu ‘agama’ untuk menjadi seseorang yang baik nan bijak, aku memang boleh dibilang atheis, tapi aku yakin, hidup ini pastilah mempunyai suatu tujuan. Hidup tanpa membuat orang lain menderita, itu sudah cukup. Bahkan, itu sudah melampaui makna terdalam tujuan hidup seseorang itu sendiri…”

Indah nasehat itu, tapi, apakah kita bisa seperti itu…?


  1. dildaar80

    thank’s..




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: