Aku Bukan Objek Sistem Formal

Sebagai anak muda, perjalanan keluar kota bersama-sama dengan rekan-rekan kampus, merupakan hal yang menyenangkan. Terlebih lagi, ini merupakan suatu kesempatan yang sangat berharga untuk mempelajari apa saja yang terkadang sulit untuk ditemukan di tengah hiruk pikuk dan sesak manusia di kota besar.

Puncak merupakan daerah tujuan yang biasa sering saya kunjungi bersama-sama dengan teman-teman kampus. Dikarenakan saya cukup aktif dalam dunia organisasi mahasiswa, biaya akomodasi telah ditanggung oleh pihak akademik. Perjalanan semacam itu, bukanlah bagian dari acara hura-hura, melainkan acara orientasi mahasiswa/i baru ataupun latihan kepemimpinan dasar.

Sebagaimana para mahasiswa/i baru tersebut. Saya pun telah mengalami hal serupa seperti yang mereka alami. Wajib menghormati senior, dan aturan senior selalu benar tetap akan terus berlaku selama berlangsungnya acara. Kekerasan fisik, dilarang oleh pihak akademik. Oleh karenanya, kegiatan tersebut lebih menitikberatkan pelatihan mental dengan metode non-kekerasan fisik, lebih mengutamakan daya analisa sintesa, kerjasama tim, kemampuan beradaptasi, serta kepribadian pemimpin. Kesemuanya itu, sekiranya diharapkan akan bermanfaat bagi para peserta itu sendiri tidak hanya ketika mereka berada di bangku universitas, terlebih dalam kehidupan masyarakat. Meski acara tersebut hanya berlangsung selama tiga hari – dua malam. Namun, para panitia (termasuk saya) yakin, sedikit banyak, akan mampu membentuk suatu sikap dan kepribadian tertentu yang membekas dalam diri peserta tersebut.

Sering saya diceritakan pengalaman calon mahasiswa baru yang diperlakukan secara kasar (menggunakan fisik), dipermalukan, dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi dari seniornya (bahan lelucon) dan lainnya. Akan tetapi, timbul pertanyaan dalam diri saya, apakah hal semacam itu berfaedah? Apakah dengan proses orientasi yang merendahkan derajat calon mahasiswa tersebut mampu mendongkrak pemimpin-pemimpin yang berkualitas kelak? Alih-alih, saya khawatir, ini hanya bagian dari lingkaran balas dendam yang kelak akan dijadikan para calon mahasiswa/i tersebut, bila kelak menjadi panitia orientasi atau latihan kepemimpinan dasar sebagai hal yang membenarkan tindakan mereka itu.

Seiring dengan perkembangan zaman, metode didik pun terus mengalami perubahan. Mendidik peserta didik, tidak selalu efektif dengan suatu metode tertentu. Akan tetapi, mendidik dengan cara bijaksana, tentu akan banyak faedah yang akan diperoleh, baik kini maupun di masa mendatang. Mengambil nasehat yang sering dikemukakan ayah saya, “Seorang anak tak perlu dibentak dan atau dipukuli, untuk menjadikannya seorang yang bertanggungjawab dan berbakti pada orang tua”. Sulit bagi saya untuk memahami maksud ini. Akan tetapi, ketika melihat apa yang telah berlalu dalam kehidupan saya, saya menyadari, kesadaran yang bermula dari diri sendiri merupakan hal yang paling ampuh untuk mendidik seseorang membentuknya menjadi pribadi yang berwatak mulia. Seorang manusia tak dihargai karena kekayaan, harta, kepandaian, ataupun karena kepopulerannya. Akan tetapi, kebesaran hati (jiwa) maupun kekuatan karakternya.

Sungguh ironi, mempercayakan proses pembentukkan karakter hanya pada konstelasi sistem pendidikan yang berlaku dalam kerangka formal. Namun, mengesampingkan konteks pengembangan kepribadian baik dalam lingkungan keluarga maupun sekeliling dari keberadaan subjek yang ditangani. Manusia adalah makhluk yang dinamis, mampu mengolah informasi yang telah diperolehnya (setidaknya ini berlaku bagi manusia yang sehat secara jasmaniah dan rohaniah), mengeluarkannya sebagai suatu output yang berdaya guna. Seyogyanya, tidak diperlakukan sebagai objek deraan institusi formal yang mengekang kebebasan berpikir. Mereka adalah subjek yang perlu diutamakan, bukan dinomor duakan. Pembangunan manusia seutuhnya, tidak dapat dibenarkan hanya mengandalkan sistem yang telah ada selama ini. Dengan demikian, tak hanya iptek yang diunggulkan, tetapi juga diseimbangkan dengan sisi humanitas. Maka, apa yang diidam-idamkan oleh para orang tua (yang menginginkan hal-hal terbaik bagi putra/i mereka) dapat tercapai.




    Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: