MT (MDP/BDP) BCA: In Search of Excellence
Waktu cepat berlalu, tidak terasa program pendidikan 1 tahun (MT – Management Trainee) dari BCA, telah hampir selesai saya lalui. Ujian demi ujian saya hadapi, sungguh proses yang sangat melelahkan, bahkan bisa dikatakan program pendidikan ini jauh lebih sulit daripada mengambil title master (Pascasarjana). Kurang lebih 1 minggu ke depan, saya harus menghadapi ujian akhir (titik kulminasi) dari program pendidikan ini, ya.. demi kenaikan eselon serta hasrat untuk pengembangan diri.
MT BCA adalah salah satu program pendidikan MT industri perbankan terbaik saat ini, khususnya di Indonesia. Dahulu, Citibank adalah sekolah dari para bankir terbaik di negeri ini, namun, seiring berjalannya waktu, telah terjadi banyak pergeseran dalam hal kemajuan pengembangan SDM perbankan di negeri ini. Tidak dapat dipungkiri, investasi besar dalam pengembangan SDM, membuat perbankan local mampu menyaingi bahkan melampaui bank-bank asing di Indonesia.
Saat ini, lulusan MT BCA dianggap sebagai barometer bankir-bankir berkualitas yang selain unggul dalam hal intelektualitas, pun unggul dalam hal softskills. Ini bukan hal yang terjadi semata-mata karena kebetulan. BCA telah lama sekali menginvestasi uang yang sangat besar dalam hal pengembangan SDM. Alih-alih membajak karyawan-karyawan bank-bank lain, BCA lebih tertarik menggodok para freshgraduate atau calon karyawan yang memiliki pengalaman beberapa tahun, dari background pendidikan yang beragam, serta pengalaman-pengalaman kerja yang bervariasi.
Sebagai karakteristik perusahaan bervisi global (dengan cita-cita merambah ke pasar internasional), BCA “berani bertaruh” dalam hal penggemblengan calon karyawan (cakar) via MT, tidak peduli apapun background dari cakar tsb. Mengapa BCA mengambil langkah semacam itu? Ya, ini karena BCA memiliki system pengembangan SDM yang sudah sangat tertata rapi, efisien, kompleks dan rumit dalam hal perekrutan. Bisa dikatakan SDM yang ikut program MT adalah orang-orang pilihan, dengan rasio penerimaan, sejak dari proses awal hingga wawancara akhir dengan user sebesar 200:1 (ratusan bahkan ribuan orang melamar, setelah skimming tersisa 200 orang, setelah 7 kali tahap penyaringan, hanya 1 orang yang lolos dan diberi tiket ikut program MT). Ya mungkin sekarang telah diperlonggar dengan persetase 1% (100:1) seiring dengan strategi ekspansif perusahaan dalam sector perkreditan.
Jujur saja, meski saat ini, banyak bank-bank lain di Indonesia, menggembar-gemborkan program MT, bahkan dengan iming-iming gaji yang melebihi BCA, namun, banyak sisi lemah yang belum ter-cover oleh manajemen perusahaan tsb. Masih perlu banyak pembenahan di sana-sini, belum lagi kendala biaya untuk tahap rekrutmen bahkan hingga pendidikan MT berakhir, sungguh menghabiskan dana yang tidak sedikit, mungkin sudah hitungan ratusan juta (bila ingin mencetak MT seperti BCA). Lah wong untuk merekrut 1 calon MT saja, harus menghabiskan waktu dan uang untuk menyisihkan 199 calon lainnya (bisa dibayangkan berapa uang yang perlu BCA gelontorkan untuk perusahaan konsultan ternama, serta waktu yang perlu tim rekrutmen BCA habiskan untuk proses yang sangat meletihkan tsb).
Namun jangan kuatir, BCA tidak akan pernah kehabisan uang hanya karena program pengembangan SDM, justru dengan adanya program ini, BCA sanggup mempertahankan annual growth yang fantastis, +/- 22-25% per tahun. Ya, benar sekali pemikiran anda, bila anda juga berpikir bahwa SDM yang berkualitas, sangat menjamin pertumbuhan perusahaan yang konsisten, bahkan juga mampu membawa perusahaan ke lompatan pertumbuhan yang fantastis. Sungguh “Knowledge is Power”, dan yang mampu mengeluarkan ide-ide cemerlang adalah orang-orang yang memiliki “knowledge” tsb.
Saya tidak akan berbicara panjang lebar mengenai MT BCA di postingan kali ini. Tapi saya lebih tertarik menceritakan pengalaman saya selama masih ikut MT ini. Pernah satu waktu, ketika saya telah menjalani 8 bulan program ini (masih tersisa 4 bulan), entah dari sumber mana, sebuah perusahaan konsultan, menawari pekerjaan sebagai analis, uniknya, sector perusahaan tersebut adalah industri manufaktur elektronik, dan yang mencengangkan, perusahaan tsb masuk kategori multinasional terbesar di dunia untuk sector elektronika. Yang membuat saya “iri”, tawaran gaji 2x lipat dari apa yang saya terima saat ini. Namun, tawaran tsb tidak bisa saya terima, karena program MT belum berakhir, adalah hal yang perlu saya buktikan, “saya harus lulus”.
Tepat hari ini, hal yang lebih mencengangkan, seorang wanita mengontak HP saya, saya tidak mengenal dia, tapi dia mengenal saya… waduh, bicaranya cas-cis-cus, bahasa Inggris super fasih. Dia menginformasikan pada saya bahwa perusahaan tempat ia bekerja, sedang mencari kandidat untuk mengisi posisi kosong perusahaannya, sebuah institusi yang bergerak di bidang konsultasi, riset dan publikasi hal-hal yang berhubungan dengan financial (perusahaan ini didirikan di Singapura, dan memiliki beberapa kantor representative di Asia-Pacific). Yang paling membuat saya “shock”, ia meminta saya untuk terbang ke Bangkok, Thailand sesuai schedule yang telah ia tetapkan dan perusahaan ybs akan mengganti biaya akomodasi sebesar US$1000.
Oke, saya bingung, darimana dia mendapatkan data saya. Tak masalah dengan hal itu, namun saya tertarik untuk mendengarkan tawarannya. Wow, remunerasi kotor per month yang ditawarkan berkisar 6 s.d. 8x lipat dari apa yang saya terima saat ini (total income net dibagi 12 bln). Kepala saya pusing… pusing karena interview di Bangkok, juga karena remunerasi sekelas General Manager perusahaan multinasional di Indonesia, serta 1 minggu dari sekarang, saya harus menghadapi ujian akhir MT BCA., serta bila saya mengundurkan diri dari program MT ini, saya harus siap membayar denda seharga Toyota Kijang Innova.
Sayang sungguh sangat disayangkan, saya tidak bisa menerima tawaran fantastis tsb. Karena saya belum memenuhi ikrar saya pada orang tua saya, lulus “MT BCA”. Meski program pendidikan dan ujian sangat berat, gaji pun tidak fantastis, tapi ada satu kebanggaan sebagai MT BCA, ya… nilai prestise dan kesempatan yang sangat luas, terutama dalam hal pengembangan diri. Tidak sedikit manfaat yang telah saya petik dari program ini, sungguh semua hal ini telah merubah pandangan saya tentang banyak hal, terutama dalam hal karir. Saya tidak tahu, setelah program MT ini berakhir dan saya harus terjun ke divisi baru (sebelumnya saya lama di bidang consumer dan pernah pula di komersial sebagai analis), berapa lama BCA akan memerlukan kehadiran saya di perusahaan yang dinobatkan (dari tahun ke tahun) majalah Warta Ekonomi sebagai perusahaan idaman. Mungkin, di suatu waktu, bila jasa saya sudah “tidak terpakai”, tawaran dari perusahaan lain tersebut, perlu saya pertimbangkan kembali.
Cukup dulu sampai disini, di lain waktu, saya akan menuliskan lagi (bila sempat) petualangan hidup saya di BCA. Sampai jumpa.

Tinggalkan sebuah Komentar