Belajar, Bertumbuh, dan Berkembang
Akhir-akhir ini, saya banyak merenungkan kembali hari-hari dimana saya mengalami berbagai pembelajaran yang berharga dari orang-orang di luar lingkup keluarga. Terkenang masa-masa ketika masih duduk di bangku SD, SLTP, SMU, Universitas, dan eks-perusahaan tempat saya pernah merintis karir.
Dalam banyak hal, saya merasa begitu beruntung dapat bertemu dengan banyak orang dan memperoleh pembelajaran yang berharga dari mereka, entah yang berbaik hati maupun yang mempersulit hidup saya.
Dahulu, saya selalu menganggap, yang disebut kecerdasan adalah kemampuan untuk menyerap materi di bangku sekolah. Tentu saja dengan paradigma yang demikian, hanyalah nilai formal yang saya kejar, well, “to be or not to be”. Menjadi no.1 atau tidak sama sekali, pun hal ini yang selalu saya bawa dalam banyak kesempatan dimana kompetisi yang sehat dapat timbul. Tapi saya lupa akan satu hal, saya lupa bagaimana menjadi orang yang “penyabar”, “berempati”, dan “berlapang dada”.
Unik sekali, nilai-nilai kemanusiaan yang mendalam, tidak saya temukan ketika saya berkarir di beberapa perusahaan terdahulu sewaktu saya belum masuk ke sector banking. Di awal karir, saya memasuki perusahaan jasa teknologi informasi maupun FMCG (fast moving consumer goods), hal yang saya tekankan adalah kecerdasan berpikir. Semua factor yang menuntut logika dan penalaran adalah hal yang paling diutamakan.
Saya cukup bersyukur ketika memasuki sector banking dan bertemu dengan atasan yang mau membimbing saya dengan cara memungkinkan saya bertemu dengan orang-orang yang hebat dalam hal religi dan kemanusiaan. Karena di divisi yang bermain di consumer banking inilah saya belajar untuk menjadi seorang yang berempati terhadap sesama dan berlapang dada dengan apa yang saya miliki.
Selanjutnya, ketika saya harus pindah ke divisi pelatihan dan pengembangan, hingga ke analisa risiko kredit, saya belajar sesuatu hal lagi yang belum saya kembangkan secara utuh, yakni menjadi seorang yang “penyabar”.
Dalam banyak kesempatan, kita sesungguhnya telah bertumbuh menjadi individu yang tidak sama dengan waktu sebelumnya. Satu detik yang lalu dengan saat ini, kita sudah tidak sama, baik dari fisik maupun mental kita. Sel-sel di tubuh kita senantiasa mengalami perubahan, mental kita pun demikian, perasaan yang kita rasakan kan senantiasa berubah dari waktu ke waktu.
Mengenang perjalanan hidup setiap manusia yang begitu singkat ini, tentu kita berharap agar secara kejiwaan, batin ini terus bertumbuh dan tercerahkan. Melihat realita dan fenomena hidup ini secara apa adanya. Batin dalam diri tidak tergoyahkan dengan situasi dan kondisi di luar tubuh kita (lingkungan) yang senantiasa berubah dan tidak kekal hakikatnya.
Oleh karenanya, tidak ada salahnya bila kita renungkan sejenak, dengan pikiran yang penuh cinta kasih dan rasa syukur ini, kita curahkan rasa terima kasih kepada mereka yang telah berjasa membuat kita bertumbuh dan berkembang menjadi individu yang lebih baik dari hari ke hari.
Tinggalkan sebuah Komentar