Turnover Tinggi, Mengapa?

Hidup tidak selalu semudah yang kita kira. Entah apapun profesi kita, baik sebagai wiraswasta maupun sebagai karyawan. Dalam kesempatan ini, saya hanya mengupas sebagian kecil hal sulit yang kadang kita alami sebagai karyawan.

Dahulu, sebelum berkarir, dan pada awal-awal karir saya, saya selalu menganggap bahwa gaji besar dan berkesempatan bekerja di perusahaan besar adalah hal yang paling membahagiakan. Ada banyak hal yang dapat kita banggakan apabila bekerja di perusahaan bonafid, gaji besar, pakaian rapi, serta ruangan ber-ac.

Akan tetapi, setelah saya jalani sekian tahun, pindah dari satu perusahaan ke perusahaan lain, hanya berusaha mendapatkan tawaran yang lebih tinggi dari tempat baru dengan situasi dan tantangan yang baru, akhirnya saya sadari, semua yang saya kejar adalah sesuatu yang hampa dan sia-sia.

Kadang kita suka mencari pembenaran atas keputusan dan tindakan yang telah kita ambil. Entah itu mengada-ada atau benar apa adanya. Kita cenderung menggunakan hal-hal yang positif untuk membenarkan keputusan kita. Namun, kembali lagi, kita harus jujur pada diri kita sendiri, bahwa, apa yang sebenarnya kita cari dari sebuah karir di tempat baru?

Saya mencoba mengamati keadaan suatu tempat/lingkungan kerja yang tingkat turn-over-nya tinggi sekali. Hampir setiap bulan, saya saksikan orang-orang bersalaman, hanya untuk mengucapkan “farewell” and “goodbye”. Saking seringnya keadaan yang sama terjadi setiap bulan, orang-orang yang masih tetap bekerja di tempat yang sama, seakan tidak lagi begitu peduli dan ambil pusing dengan rekan-rekan mereka yang “resign” dan pindah ke tempat lain. Malah, sangat mungkin, orang-orang yang “agak cuek” tersebut juga sedang planning hal yang sama, hanya waktu yang akan berbicara.

Setelah saya gali, banyak alasan mengapa seseorang “merasa tidak betah”, hingga harus pindah ke tempat lain. Mungkin anda pun punya alasan unik, mengapa anda harus pindah dari tempat kerja anda yang sekarang ini. Tapi, dari sekian banyak alasan, ada hal yang paling krusial, yakni:

1. tidak betah karena atasan yang kurang menyenangkan (tidak cocok dengan atasan),

2. merasa adanya ketidakadilan di tempat kerja.

Oke, yang pertama, tidak cocok dengan atasan. Pernahkah anda merasa bahwa atasan anda tidak menyukai anda sejak first impression? Atau mungkin pada awalnya fine-fine saja, tapi dikemudian hari, kata-kata kasar dan makian makin menjadi-jadi, atau mungkin juga atasan anda membuat suasana sangat tidak nyaman untuk bekerja.

Sayang sekali, atasan yang “agak arogan” yang kerapkali kita jumpai di perusahaan-perusahaan besar, tampaknya tidak sadar, bahwa untuk mem-backup posisinya, dia butuh orang-orang yang ada di bawahnya. Seseorang tidak akan pernah menjadi pemimpin, bila tidak ada orang yang dapat ia pimpin.

Kesalahan kecil saja, meski hanya setitik, gampang sekali diingat oleh atasan yang kurang bijaksana tersebut. Akan tetapi, rasa-rasanya, jasa-jasa dan kerja baik yang telah diberikan oleh bawahannya, selama sekian tahun, tampaknya tidak mampu menghapus “kekhilafan” kecil yang kadang diperbuat tanpa disengaja, pun kadang kesalahan yang tidak signifikan.

Apabila atasan tersebut dikritik atas sikapnya yang berat sebelah tersebut, maka sebagai pembenarannya, ia akan mengatakan “itu demi kebaikanmu…” atau “saya tidak mau kamu terlengah…”. Syukur sekali kalau itu ucapan yang tulus dan jujur, mungkin kita tidak akan mempermasalahkannya. Tapi, bagaimana kalau itu hanyalah kamuflase dan permainan kata-kata saja, karena saya berani bertaruh, hampir sebagian besar atasan tidak akan pernah mau mengakui kesalahannya di depan anak buahnya, bahkan kalau bisa, merekalah yang berusaha menjadi orang “suci” dalam tim. Astaga… sadarlah, suatu organisasi tidak akan pernah bisa berkembang dengan cara-cara seperti itu. Sebagai atasan, kalau marah, harus kira-kira, kita menghadapi orang “dewasa”, anda harus memperhatikan apakah anak buah anda termasuk “orang sensitif” atau tidak… efeknya akan buruk dikemudian hari untuk atasan dan bawahan tersebut.

Lain halnya dengan alasan yang kedua. Everything is okay, everything is running well, until, suddenly, keputusan keliru diambil oleh manajemen, contoh: mempromosikan orang-orang yang belum layak untuk suatu kedudukan tertentu, mengabaikan karyawan yang mati-matian berjuang demi perusahaan, menghambat karir anak buah, membela anak buah secara tidak adil, dll.

Ya, sah-sah saja, sebagai atasan kita bisa putuskan apa saja, tapi, ingat lagi. Anda tidak bisa bekerja dengan “pilih kasih”, sadar atau tidak, keputusan yang tidak adil akan menyebabkan suatu keretakan yang akan fatal pada suatu organisasi di masa mendatang.

Tentu, anda bisa bilang, “saya tidak perlu orang pintar, setiap orang tidak ada yang tidak bisa digantikan…”. Well, menurut hemat saya, orang yang berbicara seperti, sungguh orang yang kebijaksanaannya perlu digembleng lagi. Sadarkah anda, bahwa suatu hari orang yang telah pergi tersebut akan menjadi ancaman terbesar atau kunci dari kegagalan anda di kemudian hari?

Orang-orang yang telah pergi meninggalkan suatu perusahaan setelah sekian lama berkarir, apalagi orang tersebut adalah orang-orang pilihan, dalam arti Management Trainee yang telah mengalami penyaringan yang super ketat, dengan segudang talenta yang dimiliki, plus pengalaman yang digembleng dari pekerjaan yang dilakoninya sehari-hari, suatu saat akan bekerja pada kompetitor kita, celakanya, orang tersebut membocorkan strategi-strategi, SOP (Standard Operating Procedures), dll dari eks-perusahaan tempat ia bekerja…

Oh ya, anda bisa bilang, “toh ini bukan perusahaan milik saya, ini kan perusahaan besar yang terbuka, saham dijual di bursa efek, saya hanya karyawan dengan pangkat tertentu… saya akan tetap makan gaji tiap bulan…”. Well, sungguh kasihan orang yang berpikir semacam ini. Kelak ketika perusahaan anda tidak mengalami laba, akan selalu ada efisiensi, syukurlah perusahaan tidak mengambil jalan PHK karena tidak mampu meraih laba lagi, sedangkan beban operasional tidak tanggung-tanggung beratnya.

Sudah saatnya kita menyadari, karyawan bukanlah asset macam barang investasi yang bisa di perjual belikan dan didepresiasikan. Karyawan adalah “the man behind the gun”, orang dibalik kesuksesan suatu perusahaan. Tanpa jerih payah dari seorang karyawan kecil, takkan ada karyawan besar… pun takkan pernah suatu perusahaan bisa eksis.

Well, apabila anda seseorang yang mengalami tekanan yang kurang menyenangkan di tempat kerja, dan hal tersebut datang secara bertubi-tubi, mungkin ada baiknya kita melirik suatu tempat baru. Tapi, apabila anda tidak punya alasan kuat untuk pindah, sebaiknya anda tetap bertahan dan bekerja dengan baik, tidak usah menjadi yang terhebat di tempat kerja, yang penting “bekerja dengan baik” saja sudah sangat cukup. Karena, kadang tempat baru tidaklah seindah yang kita bayangkan, kadang tempat baru adalah suatu awal dari bencana dalam perjalanan karir kita, bahkan kita harus mengorbankan kebahagiaan kita hanya untuk meratapi duka akibat keputusan kita yang salah…

Akhir kata, syukuri apa yang telah kita miliki, jadilah pelita ditempat kerja anda yang “gelap gulita”, maka anda akan senantiasa mendapatkan yang terbaik, karna “dunia tidak akan pernah meninggalkan orang-orang yang berbakat…”




    Tinggalkan Balasan

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

    Connecting to %s



Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 91 pengikut lainnya.