Dikotomi Hubungan Vertikal dan Horizontal

Dikotomi Hubungan Vertikal dan Horizontal

Menjelang minggu ke 2 magang di GARK BCA, setidaknya sang penulis artikel ini sudah tidak sebodoh ketika awal masuk GARK tgl.23 Mei 2011. Berkat cambukan keras dari mentor, dan motivasi super-keras dan dahsyat, akhirnya saya menjadi lebih memahami tentang cara kerja proses analisa kredit komersial, kendati yang saya ketahui hanya sebutir pasir di padang gurun.

Ok, hari-hari berjalan begitu berat, di BDP (BCA Development Program) batch 10, hanya ada 3 orang yang dapat tiket magang di GARK. Harus saya akui, kedua teman saya termasuk kategori “genius hampir-hampir” (level kecerdasan di atas dari rata-rata), terkecuali yang mem-posting artikel ini, ia bisa dapat tiket, sedikit banyak karena kebaikan hati dari pewawancara (user) GARK. Tapi saya yakin, kedua teman saya yang background Akuntansi dan yang satunya lagi Manajemen Keuangan, memang sudah berada di jalur yang tepat. Well, the big problem is… tiap hari saya bakal berkutat pada laporan keuangan dan analisa kredit, jauh dari background Teknik Informatika. Saran mentor saya, saya butuh “keajaiban besar” dan butuh kinerja dahsyat… well, saya anggap ini motivasi, semakin seru tantangan, semakin membuat saya penasaran, semakin dijatuhkan, semakin besar usaha saya untuk bangkit dan menunjukkan performa terbaik. Logikanya simple… siapa sih yang mau diremehkan terus menerus…

Well, terus terang kami ber-3, takut sekali dengan ujian berat (lisan) yang harus kami hadapi, dimana kami harus presentasi masing-masing di hadapan para penguji yang sudah belasan tahun mendalami hal yang sebenarnya kami dalami dalam beberapa bulan saja (via magang). So, teman-teman saya terus mengumandangkan kata-kata “takut akan Tuhan”. Hal inilah yang membuat saya tertarik menuangkan “sepercik” pemikiran yang saya miliki di tengah luasnya samudera ilmu para khalayak pembaca.

Oke, keyakinan kami ber-3 itu beda-beda, lucunya tiap kali BBM (Blackberry Messenger), masing-masing tulis status ”takut akan Tuhan” atau kata-kata yang bermakna sama / dipersamakan dengan kata-kata itu. Kadang-kadang pas kami BBM, juga muncul kata-kata itu dari teman-teman, misalnya ”karena gue takut ama Tuhan gue…”. So, timbul pemikiran konyol dalam benak saya… ”kok dia bisa bicara seperti itu yah? Seakan-akan Tuhan-nya dia dan Tuhan-nya yang saya yakinin adalah figur yang sama sekali berbeda…”. Muncul lagi pertanyaan berikutnya, ”padahal Pancasila, sila ke-1 berbunyi: Ketuhanan Yang Maha Esa”.

Bila dikaitkan dengan program BDP, mostly, para peserta BDP adalah orang-orang yang tersaring, pintar sudah pasti (kecuali yang menulis artikel ini, murni karena kebaikan hati bos – karena izin darinya, baru bisa ikut, he..he..he..). Untuk mengerjakan soal-soal yang sukar, untuk memahami pelajaran baru dalam tempo yang sesingkat-singkatnya, sudah pasti perlu HIKMAT / HIKMAH / TAUFIK. Untuk memperoleh berkat unggul tersebut, seseorang wajib ”takut akan Tuhan”.

Karena ”takut akan Tuhan” yang membuat Raja Salomo (Nabi Sulaiman) bisa menjadi begitu mahsyur di zamannya, dan hal yang diminta oleh beliau pun tidak lain adalah ”hikmat dan kebijaksanaan” alias ”taufik dan hidayah”. Karena 2 hal itu yang bisa membuat orang meraih kesuksesan, kebesaran, impian yang tidak pernah orang lain terbayangkan sekalipun.
Karena ”takut akan Tuhan” yang membuat Nabi Ayub tegar menghadapi cobaan hidup yang begitu berat dan melampaui kemalangan hidup. Nabi Ayub tetap ”takut akan Tuhan”, dan tidak berani berpaling dari padaNya. Akhirnya, buah dari kesabaran Ayub adalah kebahagiaan dalam hidup. Well, ibarat ”habis gelap, terbitlah terang”.

Masih banyak contoh-contoh ”takut akan Tuhan” yang membawa seseorang menuju kesuksesan tiada tara, tapi saya rasa, sidang pembaca yang lebih mengerti daripada orang pandir seperti saya ini.

Dalam hidup saya, sudah banyak hal yang luar biasa yang saya alami karena ”takut akan Tuhan”. Meskipun keyakinan saya, anda, dan teman-teman lain-lainnya berbeda, saya yakin sekali, setiap orang punya cara untuk memanifestasikan ”takut akan Tuhan”. Alih-alih memperdebatkan perbedaan itu, alangkah bijaknya bila kita berusaha menemukan benang merah dari kemajemukan tersebut. Ini bukan suatu usaha sinkretisme agama, ini hanyalah wujud dari pembelajaran moralitas dan toleransi.

Oleh karena isu-isu keyakinan itu bisa ditanggap pro maupun kontra, maka, kerap kali merayakan keberhasilan, saya enggan sekali berteriak kencang-kencang memuliakan nama Tuhan di hadapan kolega-kolega yang berlainan keyakinan, pun pada yang satu keyakinan. Mengapa? Tentu hal tersebut tidak mengurangi rasa syukur saya pada Tuhan, bahkan melebihi ungkapan rasa syukur yang terucap dari kata-kata mulut belaka ataupun tulisan-tulisan di status BBM, Facebook, maupun Twitter. Orang berkata ”belah-lah dadaku, maka engkau akan mengetahui isi hatiku”, bahkan ada peribahasa ”dalam laut dapat diduga, dalam hati, siapa yang tahu?”.

Proses pengalaman hidup ini membuat saya semakin giat memilah hubungan horizontal (antarsesama manusia) dan vertikal (dengan Tuhan), serta berusaha memberikan batasan-batasan dalam konteks yang sesuai dengan situasi dan kondisinya. Mengapa? Proses dikotomi ini bukanlah sesuatu yang bersifat kontra-produktif, tapi lebih pada suatu usaha agar tidak terjadi benturan dalam pembinaan hubungan-hubungan itu sendiri.

Dalam proses pembelajaran hidup, kita harus sadar bahwasanya Manusia adalah Makhluk Sosial (Homo Homini Socius), suatu pemikiran yang dicetuskan oleh Prof. N. Driyarkara (seorang pemikir besar yang menanamkan akar filsafat di Indonesia). Kita adalah makhluk sosial, dan kita berbaur dalam suatu kehidupan bermasyarakat, dan masyarakat itu sendiri yang membentuk suatu negara.

Sehubungan dengan individu-individu yang berbaur dalam kehidupan sosial hingga membentuk suatu koloni yang kemudian menghambakan diri pada sang Khalik, yang kemudian disebut kaum daripada-Nya, maka ada quote indah yang berbunyi: ”Allah tidak akan mengubah nasib kaumnya, kecuali kaum itu mau mengubahnya”. Makna tersirat dari kalimat ini (salah satunya) adalah individu-individu yang membentuk kelompok itu, sedikit banyak akan memiliki nasib yang tidak jauh berbeda dengan keadaan yang dialami oleh kesatuan kelompok itu.

Bayangkan bila ide Homo Homini Lupus (manusia adalah serigala bagi sesamanya) dikumandangkan dengan gencar dan khalayak ramai, tanpa hikmat dan kebijaksanaan (taufik dan hidayah) menyelami mentah-mentah ide pemikiran semacam itu, dan parahnya mempraktekkan dalam kehidupan masyarakat. Wajar saja bila eksistensi kedamaian dalam suatu masyarakat terganggu. Lebih lanjut, akan mengakibatkan ketidakseimbangan tatanan kehidupan positif. Tak heran, malapetaka dan kesengsaraan yang dirasakan oleh kelompok itu sendiri.

Pun ada pertanyaan yang terkadang menggelitik yang diutarakan orang lain pada saya, ”apakah kamu sudah percaya dan menerima Tuhan?”. Wah, tidak diragukan lagi, kalau saya bisa ”takut akan Tuhan”, mengapa saya tidak mempercayai dan menerima keberadaan-Nya. Sehingga, bila suatu ketika anda ditanyakan dengan pertanyaan serupa, anda mungkin perlu informasi lebih detail dengan menanyakan kembali ”apakah menurut anda, saya tidak mempercayai keberadaan Tuhan?” (note: ”takut” yang dimaksudkan bukan karena dihukum oleh Dia, tapi lebih pada rasa ”takut” hidup sia-sia di bumi ini tanpa memberikan manfaat bagi masyarakat sebagaimana apa yang Dia telah rencanakan pada tiap insan di muka bumi ini, serta ”takut” berbuat tidak terpuji pada lainnya).

Tuhan adalah figur yang Maha Penyayang, Dia adalah Sumber Maaf, dia juga sumber Hikmat dan Kebijaksanaan, dan hanya kepada-Nya kita meminta Hikmat dan Kebijaksanaan. Tuhan tidak ingin kita ”takut” (dalam arti sempit) pada-Nya, Tuhan ingin kita bersukacita pada-Nya, Ia adalah Sahabat Sejati, Pelipur Lara, Air Kehidupan di padang pasir yang gersang. Tuhan ingin dipersonifikasi sebagai sosok yang penuh Cinta Kasih, Penyayang, Pembawa Damai, Pemberi Kehidupan, dan The Way of Life (Pandangan Hidup). Sehingga berdasarkan premis sebelumnya, saya menyimpulkan makna ”takut akan Tuhan”, ternyata memiliki makna yang begitu luas pun dengan persepsi yang beragam, tapi semua hal itu ”penuh dengan hal positif ketimbang negatif”.




    Tinggalkan Balasan

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

    Connecting to %s



Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 91 pengikut lainnya.