Dari UBKK Hingga Ke GARK BCA: Sebuah Kenangan akan Pesan-pesan Sang Manajer yang Belum Terhapuskan
Tgl.23 Mei 2011, mau tidak mau, saya harus siap-siap untuk mengarah ke Menara BCA – Grand Indonesia (per postingan ini, ditetapkan sebagai gedung perkantoran tertinggi di Indonesia). Kantor mewah ini adalah hasil investasi dari Grup Djarum, yang belakangan banyak melakukan transisi bisnis selain bisnis utama rokok (mesin pencetak uang Grup Djarum).
Menara BCA bukan hanya sebuah gedung perkantoran di bilangan Jl. Thamrin. Gedung ini adalah simbol kebanggaan orang-orang yang mengabdi pada BCA. Jujur, saya bangga ketika harus berdiri di depan gedung ini, kendati saya (misalnya) bukan karyawan BCA. Bisa dibayangkan, bagaimana bila saya bekerja pada BCA (sudah menjadi kenyataan)…
Tapi, tulisan kali ini bukan untuk membicarakan tentang gedung yang wah-wah itu. Tulisan kali ini lebih pada betapa freshnya ingatan saya akan atasan saya yang berada di Divisi Konsumer, tepatnya Biro Pemrosesan Kredit Konsumer – Unit Bisnis Kredit Konsumer (Biro PKK – UBKK).
Teringat saat-saat terakhir saya memutuskan untuk migrasi ke Biro Pelatihan Khusus – Divisi Pelatihan dan Pengembangan (BPK-DPP) BCA, agar dapat mengenyam pendidikan selama 1 tahun, untuk memperdalam ilmu-ilmu mengenai produk jasa, passiva, kredit, perdagangan internasional, selling skills for bankers, teknik negosiasi, manajemen resiko (operasional & kredit), aspek hukum (operasional & kredit), akuntansi keuangan, analisa rasio – trend, laporan keuangan proforma, treasury, dll. Total modul +/- 21 modul, dengan total ketebalan +/- 2000 halaman, yang wajib dikuasai dalam rentang waktu +/- 2 bulan. Setiap modul +/- diselesaikan pembahasannya dalam rentang 1 hingga 5 hari, setelah itu langsung ujian, plus 2x ujian komprehensif tertulis.
Bisa dibayangkan… apa yang akan terjadi bila otak kita sedang ”hang”??? Tentu materi yang begitu banyak dan dimampatkan dalam bentuk pelatihan yang begitu singkat, cukup berat untuk sebagian besar orang. Tapi, saya akui, ini seru, mengasyikan bisa belajar bekerja keras, sambil mengetahui limitasi dalam diri, sekaligus menguji sifat INTEGRITAS dalam diri (apakah tergoda untuk menyontek, atau tidak.. – untungnya, semua dilalui tanpa ”cheating” – syukur padaNya, yang telah memberi saya kekuatan untuk melalui ujian demi ujian berat dari hari ke hari)
Tgl.23 Mei 2011, setelah melalui serangkaian pelatihan di kelas selama +/- 3 bulan, saya harus siap-siap untuk magang dan memperdalam ilmu analisa dan ”forcasting” industri, suatu pelajaran berharga untuk orang yang memiliki background yang sangat jauh dari segala hal yang menyangkut keuangan, analisa, alur industri dan bisnis. Saya harus bersiap-siap untuk meluncur ke Grup Analisa Resiko Kredit (GARK) BCA.
Sesuai dengan pesan atasan saya, Kabiro PKK, saya harus memberitahukan perkembangan pelatihan saya, karena training 1 tahun ini bukan hanya masalah pengembangan karir saya, ini adalah masalah soal nama baik UBKK yang saya bawa kemanapun selama saya berkarir di BCA (meski saya sudah tak lagi berkarir di UBKK).
Terus terang, saya sangat berhutang budi pada atasan saya, bukan hanya karena dia yang telah memberi saya kesempatan mengecap rasanya berkarir di perbankan (karena sebelumnya saya telah merasakan pengalaman berharga di Fast Moving Consumer Goods [FMCG], tepatnya di Unilever), tapi terlebih karena atasan saya inilah, saya bisa mengembangkan pengalaman spiritual saya lebih mendalam.
Adapun pesan terakhir yang Beliau sampaikan sebelum saya migrasi ke BPK-DPP BCA adalah:
”kamu harus ingat, tanpa persetujuan dari Kepala Divisi (Kadiv) UBKK, kamu tidak akan pernah mendapatkan kesempatan untuk mengikuti program BDP (BCA Development Program) yang dilaksanakan oleh BPK-DPP BCA… terus terang, Kadiv dan Wakadiv tidak menyetujui keputusan ini… dan kamu juga telah menyadari, dengan keputusan kamu ini, apabila kamu lulus nanti, kamu tidak dapat kembali ke UBKK, karena sesuai persetujuan tertulis, kamu harus pindah ke Divisi (GARK) yang sedari awal pada saat interview telah memilihmu untuk ikut program pelatihan ini… Kamu harus sadar kamu membawa nama baik UBKK, kemanapun, kendati kamu sudah tidak lagi berkarir di sini, ikatan ini akan selalu terjalin sampai kapanpun… Kamu tidak boleh mempermalukan kami (red. UBKK), karena kami telah mengatakan kepada pihak training centre, kami mengirimkan salah seorang staf yang memang (sebenarnya) masih kami perlukan, yang hingga kini belum kami temukan penggantinya…”
”Perlu kamu ketahui, kamu tidak ada pilihan lain selain lulus.. mengapa? Karena apabila kamu gagal, kami pun belum tentu masih memiliki tempat untuk menampungmu di sini… jadi, kamu tak ada pilihan lain selain maju, terus dan berusaha…” -> kata yang terakhir ini menyiratkan betapa atasan saya tidak ingin saya gagal dalam mengikuti program ini, sungguh besar harapannya… kata-kata inilah yang terus saya ingat ketika saya harus menghadapi ujian yang demikian berat, kendatipun saya terkadang berpikir… ”apakah saya masih mampu melihat mentari pagi.. karena badan saya sungguh sangat letih.. dan pikiran saya sungguh lelah… modul-modul tebal.. perlu dikuasai dalam tempo yang sangat singkat..”
Wakadiv UBKK pernah berpesan pada saya,
”kamu tidak boleh hanya memberikan 99,99% kemampuan yang kamu miliki untuk berhasil dalam program ini… jika saya menjadi kamu.. saya akan berusaha memberikan 100% diri saya untuk program ini… dan kamu harus ingat kamu tidak boleh berpikir hanya untuk lulus… kamu harus melebihi ekspektasi kami… karena dengan demikianlah, kamu dapat merasakan apa artinya keberhasilan dan arti dari suatu pencapaian… ini adalah motivasi dasar yang menjadikan BCA tetap eksis dari masa ke masa… bila bisa menjadi nomor 1, mengapa harus menjadi nomor 2?… dan oleh karenanya, kamu harus belajar menjadi orang besar, barulah kesuksesan kan senantiasa mengejarmu…”
Ya, hal yang memberatkan saya adalah terus berusaha mengikuti wejangan atasan-atasan saya. Tapi pada akhirnya, saya mengerti apa maksud dari kata-kata mereka, menjadi yang terbaik, tidak harus berarti ”mengejar kesuksesan”. Adapun esensi mendasar dari wejangan mereka adalah ”bagaimana menjadi orang besar”. Karena dengan menjadi orang besar, kita belajar bukan untuk mengejar nilai (tolak ukur statis), tapi pengalaman dari pembelajaran tersebut yang intinya bersifat dinamis, suatu proses pemahaman mendasar akan inti dari setiap materi yang kita pelajari. Dengan memiliki fondasi ilmu yang kokoh, akan sangat memudahkan kita untuk mempelajari topik-topik yang lebih sulit di kemudian hari. Dan, tentu akan lebih baik lagi, bila pengetahuan tersebut di share… seperti kata mutiara yang pernah saya tulis di status facebook saya, ”Thousands of candles can be lit from a single candle, and the life of the candle will not be shortened. Knowledge never decreases by being shared”.
Tgl.22 Mei 2011, sesuai dengan wejangan bos, saya kirim sms ke beliau, yang menceritakan hal-hal yang saya alami selama +/- 3 bln. Sungguh terharu, beliau membalas sms dengan kata-kata yang penuh motivasi dan doa-doa positif bagi saya. Terus terang saya merasakan begitu besar energi positif yang beliau pancarkan pada saya, yang senantiasa memberikan kekuatan batin bagi saya untuk terus berusaha memberikan yang terbaik pada setiap langkah hidup saya. Ini sangat selaras dengan pesan-pesannya sebelum saya bermigrasi,
“Kendati saya tidak setuju, karena sesungguhnya masih diperlukan di sini. Namun, tugas utama seorang manajer adalah mendukung keberhasilan anak buahnya, termasuk membuat planning-planning karir yang baik bagi anak buahnya… Karena kamu telah yakin dengan pilihan hatimu, maka saya hanya bisa mendukung ketetapan hatimu itu mendoakannya… Saya harus men-support niat anak buah saya untuk maju… barulah saya bisa berbangga, bertugas sebagai seorang manajer…”
Kendati saya memiliki daya ingat yang tidak terlalu buruk (bertahan cukup lama), tapi saya sangat takut sekali apa yang ada dalam benak saya ini, semua energi positif ini yang tersimpan di suatu tempat di otak saya, akan hilang begitu saja karena termakan usia. Oleh karenanya, tak salah saya menuangkannya dalam ketikan jari-jemari dan mem-postingnya ke blog (yang mungkin tidak akan pernah ada orang yang mengunjunginya ini). Semoga kenangan positif ini kan selalu dapat tersebar ke semua orang di luar sana, yang entah karena satu atau dua sebab, mampir ke blog sederhana ini… sukses selalu untuk hadirat pembaca yang terhormat… semoga dilain waktu, saya dapat terus menebar energi positif via blog ini.

Juli 31, 2011 at 3:56 am
Wahh masuk blog ternyata di blog yang bener hehehe, salam kenal ya, aku dewi, dulu aku di GARK Surabaya, 1,5 tahun off trus kerja lagi di syariah banking di bali. Bener banget, aku dulu juga hasil didikan BCA, melalui PPA, dan selama pendidikan dan kerja, banyak aku temui orang2 yang baik dan selalu memotivasi yang baik. Sukses ya ray!
Oktober 24, 2011 at 1:53 pm
salam kenal juga Dew’s, sukses slalu untuk mu
November 25, 2011 at 2:48 pm
Saya baru masuk BDP BCA tp setelah membaca tulisan bung ray jadi sedikit merinding membayangkan penyeleksiannya. apakah memang se’dahsyat’ itu gemblengannya?
tp malah penasaran nih cz saya baru mulai training 28 nov 2011.
bung ray masih BDP ato dah jadi CA?
Slam kenal Taufik. BDP Angkatan XVIII
Desember 3, 2011 at 4:41 pm
@taufik: salam kenal
wah soal dahsyat ato ngak nya, mas taufik sendiri yang bisa mengungkapkannya (krn sudah di BDP). kalo bagi saya pribadi, gemblengan di BDP itu sangat keras (pengalaman pribadi), terutama untuk bbrp program penjurusan yg sifatnya non-marketing, perlu kualifikasi di atas rata-rata. awalnya jadi CA, tapi ditawarkan di Manajemen Risiko (saya ambil krn saya anggap ini tantangan baru, sangat mengasyikkan bisa belajar di divisi yang beda-beda). sukses ya sampai di final